14 Tahun Jadi Tukang Ojek, Erna Bangkit Pascabencana Lewat SPPG
Nomor: ARTIKEL-09/BGN/02/2026
Artikel • 23 Februari 2026
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan HumasAgam – Subuh belum benar-benar pecah ketika Erna Sophia memanaskan sepeda motornya. Empat belas tahun lamanya ia menjadi tukang ojek perempuan di kampungnya di Salareh Aia, Agam, Sumatera Barat—mengantar ibu-ibu ke pasar, menjemput warga, serta menunggu penumpang dengan harap-harap cemas. Dalam sehari, berjam-jam di jalan, penghasilannya paling banyak Rp50 ribu, itu pun jika sedang ramai.
Bencana datang dan mengubah segalanya. Sawahnya habis, pelanggan ojeknya banyak yang tak lagi ada. “Kami sawah sudah habis, pak. Gak bisa lagi. Gak ada ojek, gak ada lagi. Orang yang biasa jadi langganan sudah meninggal,” tuturnya lirih mengenang masa sulit itu.
Di tengah situasi serba terbatas, Erna mendengar kabar dibukanya kesempatan bekerja di SPPG wilayah Palembayan, Salareh Aia, Sumatera Barat. Ia memberanikan diri mendatangi mitra SPPG setempat untuk meminta pekerjaan. “Minta kerja ke Tommy, pak. Udah capek, aku nggak mau lagi ojek. Udah 14 tahun,” katanya. Jawaban yang ia terima sederhana, tetapi mengubah hidupnya. “Iya, silakan,” kenangnya menirukan respons mitra tersebut.
Sejak itu, Erna bekerja sebagai cleaning service di SPPG. Ia memulai dari awal, bahkan sempat bekerja sendirian. Namun bagi Erna, pekerjaan itu bukan sekadar menyapu dan membersihkan. Itu adalah titik balik kehidupannya.
Sejak bergabung di SPPG, kondisi ekonominya perlahan membaik. Ia merasakan hidup yang lebih stabil dibanding sebelumnya. “Baik. Bagus. Aku bangga, pak. Aku bangga, walaupun sedikit, nikmat rasanya, pak,” ujarnya dengan nada syukur.
Setiap dua minggu sekali, ia menerima Rp1,7 juta. Jauh berbeda dibanding masa ketika ia harus berkeliling berjam-jam demi puluhan ribu rupiah. “Lumayan, pak. Alhamdulillah,” katanya singkat, matanya berbinar.
Penghasilan itu bukan untuk gaya hidup. Anak dan cucu-cucunya menjadi prioritas utama. “Anakku sekarang tamat, pak. SMP masuk SMK. Mata pencarian gak ada. Makanya aku mohon sama Tommy. Sekarang aku terima. Terima kasih ya, pak,” ucapnya. Suaminya hanya seorang guru mengaji di masjid kecil di kampung. Empat cucu menanti masa depan yang lebih baik.
Ironisnya, Erna sendiri tak sempat menikmati pendidikan. “Iya. Aku gak tamat SD, pak. Gak ada biaya sama orang tua.” Karena itu, ia memiliki satu tekad kuat: “Ingin perjuangkan anak. Jangan seperti aku, pak.”
Bagi Erna, SPPG bukan sekadar tempat kerja, melainkan amanah. “Alhamdulillah, pak. Amanah bagi semua,” ucapnya pelan.
Sebagai warga, bukan hanya pekerja, Erna juga melihat langsung dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan dari dapur SPPG kepada anak-anak sekolah. “Sangat berterima kasih, pak. Sangat besar,” katanya. Ia tahu betul, makanan yang disiapkan di dapur itu bukan sekadar menu, melainkan harapan.
Tommy Wiraputra menilai keberadaan SPPG bukan hanya soal distribusi makanan, tetapi juga pemulihan ekonomi warga terdampak. “Kami ingin SPPG ini bukan hanya menyalurkan MBG, tapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, terutama yang terdampak bencana,” ujarnya. Menurutnya, melibatkan warga lokal menjadi bagian dari komitmen keberlanjutan program agar manfaatnya dirasakan lebih luas.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizin Nasional