Berita

/

Artikel

/

Dari Rumah ke Dapur MBG: Perjalanan Hayatunnisa Menemukan Langkah Baru

Dari Rumah ke Dapur MBG: Perjalanan Hayatunnisa Menemukan Langkah Baru

Nomor: ARTIKEL-94/BGN/05/2026

Artikel 3 Mei 2026

picture-Dari Rumah ke Dapur MBG: Perjalanan Hayatunnisa Menemukan Langkah Baru

Bogor — Pagi bagi sebagian orang dimulai saat matahari terbit. Namun bagi Hayatunnisa, hari telah berjalan sejak pukul tiga dini hari. Dalam gelap yang masih menyelimuti jalanan, ia melangkah menuju dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jogjogan Silma 2, tempat ia kini mengisi hari sebagai relawan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Perempuan 26 tahun itu tidak selalu berada di titik ini. Ada perjalanan yang membawanya kembali melangkah, setelah sempat berhenti cukup lama.

Sebelumnya, Hayatunnisa bekerja sebagai guru taman kanak-kanak selama dua tahun. Hari-harinya diisi dengan mengajar, mendampingi anak-anak, dan membangun kedekatan yang hangat dengan murid-muridnya.

Namun, hidup membawanya pada fase yang berbeda.

Ia memutuskan berhenti bekerja ketika ibunya mengalami kecelakaan di rumah. Tanpa ragu, ia memilih untuk tetap di rumah, merawat sang ibu hingga pulih.

“Saya berhenti kerja karena ibu jatuh dari tangga, tangannya patah. Waktu itu fokus merawat ibu sampai sekitar delapan bulan,” ujarnya.

Waktu berjalan pelan. Rutinitas berubah. Dari yang sebelumnya aktif di luar rumah, ia menjalani hari dengan peran yang berbeda, merawat, menunggu, dan memastikan kondisi ibunya membaik.

Setelah masa itu terlewati, Hayatunnisa mulai mencari jalan untuk kembali beraktivitas. Ia ingin membuka lembaran baru, meski langkahnya tidak harus besar.

Kesempatan itu datang ketika dapur MBG di Jogjogan mulai beroperasi. Sejak awal berdiri, ia memutuskan bergabung sebagai relawan, mengambil peran di bagian pemorsian.

“Pengen coba cari pengalaman. Kebetulan juga diizinkan sama orang tua,” katanya.

Lingkungan kerja yang ia temui berbeda dari sebelumnya. Ritme kerja lebih cepat, tuntutan lebih tinggi, dan ia harus beradaptasi dengan tim yang beragam.

Namun dari situ, ia justru menemukan banyak pelajaran.

“Banyak pelajaran yang didapat. Disiplin waktu, terus bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain juga,” ujarnya.

Di tengah rutinitas yang padat, ada hal lain yang ia rasakan tumbuh perlahan: kebersamaan.

Bekerja dalam satu dapur, dengan tujuan yang sama, menciptakan rasa kedekatan yang tidak ia duga sebelumnya.

“Senangnya karena bisa bareng-bareng sama teman-teman. Di sini kerasa kekeluargaannya,” tuturnya.

Ia tidak menampik bahwa pekerjaan ini melelahkan. Bangun dini hari dan bekerja dalam ritme cepat menjadi tantangan tersendiri. Namun bagi Hayatunnisa, kelelahan itu datang bersama makna.

“Capek pasti, tapi senangnya juga ada,” ujarnya.

Pelan-pelan, ia menemukan kembali ritme hidupnya. Dari yang sempat berhenti untuk merawat keluarga, kini ia kembali melangkah, membangun pengalaman, sekaligus membuka kemungkinan baru untuk masa depan.

Di sela pekerjaannya, ia juga menyadari bahwa apa yang ia lakukan memiliki arti yang lebih luas. Makanan yang ia bantu siapkan bukan sekadar konsumsi harian, tetapi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan gizi anak-anak.

“Yang penting kita lakukan sebaik mungkin, karena ini untuk orang lain,” katanya.

Ia pun berharap program MBG dapat terus berjalan dan memberi manfaat lebih luas, tidak hanya bagi penerima manfaat, tetapi juga bagi mereka yang terlibat di dalamnya.

“Sekarang cari kerja itu nggak mudah. Jadi program MBG ini sangat membantu, untuk relawan di sini dan untuk anak-anak juga,” ujarnya.

Bagi Hayatunnisa, dapur SPPG bukan sekadar tempat bekerja. Ia menjadi ruang untuk memulai kembali, pelan, tetapi pasti.

Dari pengalaman hidup yang tidak selalu mudah, ia belajar bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, tetap berarti ketika dijalani dengan ketulusan.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional