Berita

/

Artikel

/

Dari Rumah ke Dapur SPPG: Rutinitas Baru Relawan di Sleman

Dari Rumah ke Dapur SPPG: Rutinitas Baru Relawan di Sleman

Nomor: ARTIKEL-03/BGN/02/2026

Artikel 13 Februari 2026

picture-Dari Rumah ke Dapur SPPG: Rutinitas Baru Relawan di Sleman

Sleman — Pukul tiga pagi bagi sebagian orang masih waktu untuk terlelap. Namun bagi Ibu Eni, 35 tahun, jam tersebut justru menjadi awal aktivitasnya di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sleman.

Rumahnya tidak jauh dari lokasi dapur. Itu pula yang mendorongnya mendaftar ketika dibuka rekrutmen relawan dua bulan lalu. Prosesnya ia jalani seperti pelamar lainnya, mengisi formulir, mengikuti seleksi, lalu menunggu hasil.

“Waktu itu saya memang niat daftar. Karena dekat dari rumah juga, jadi saya pikir kenapa tidak coba. Prosesnya ya seperti biasa, kita melamar, ikut seleksi, terus ada pengumuman. Alhamdulillah lolos. Dari awal pembukaan saya sudah ikut di sini,” cerita Eni saat ditemui Jumat (13/2).

Sebelumnya, Eni sepenuhnya beraktivitas di rumah sebagai ibu rumah tangga. Setelah anaknya beranjak besar, ia mulai merasa memiliki waktu luang yang bisa dimanfaatkan.

“Kalau di rumah kan rutinitasnya itu-itu saja. Masak, bersih-bersih, antar jemput. Kadang rasanya monoton. Di sini jadi ada aktivitas yang berbeda. Saya tetap bisa urus keluarga, tapi juga punya kegiatan di luar rumah yang jelas tujuannya,” ujarnya.

Di dapur SPPG, Eni bertugas sebagai PC pemorsian. Ia memastikan setiap kotak makan terisi sesuai standar yang sudah ditentukan, seperti nasi, lauk, sayur, hingga buah tertata rapi sebelum dikirim ke sekolah.

Ia biasanya berangkat dari rumah sekitar pukul 02.30 atau 02.45 pagi. Menurutnya, datang lebih awal membuatnya lebih siap.

“Karena saya bagian pemorsian, saya niatin datang lebih cepat. Biasanya jam setengah tiga atau jam tiga kurang seperempat sudah sampai. Biar enggak terburu-buru dan bisa bantu persiapan dari awal. Kalau sudah selesai packing dan tidak ada tambahan dari sekolah, biasanya kami pulang sekitar jam 10 atau jam 11 siang,” jelasnya.

Meski jadwalnya cukup padat di pagi hari, Eni mengaku sudah terbiasa. Tubuhnya menyesuaikan, dan ia menikmati ritme kerja bersama tim dapur lainnya.

Menariknya, anak Eni yang kini bersekolah di Boyolali juga mendapatkan program makan bergizi di sekolahnya. Namun, sebagai anak laki-laki, cerita tentang menu sekolah tidak selalu panjang.

“Kalau enggak ditanya ya kadang enggak cerita. Namanya juga anak cowok. Tapi yang penting dia dapat makan yang baik di sekolah. Saya jadi merasa lebih mengerti prosesnya dari sisi dapur, jadi tahu bagaimana makanan itu disiapkan,” katanya.

Bagi Eni, bergabung dengan SPPG bukan sekadar soal pekerjaan. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk ikut berkontribusi, meski dalam lingkup sederhana.

“Saya mungkin cuma bagian kecil, cuma memorsikan makanan. Tapi kalau dipikir-pikir, dari sini makanan itu sampai ke anak-anak. Jadi ada rasa ikut terlibat,” tutupnya.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional