Berita

/

Artikel

/

Di Tengah Puing Bencana, MBG Bangkitkan Semangat Siswa Sekolah Darurat di Agam

Di Tengah Puing Bencana, MBG Bangkitkan Semangat Siswa Sekolah Darurat di Agam

Nomor: ARTIKEL-10/BGN/02/2026

Artikel 23 Februari 2026

picture-Di Tengah Puing Bencana, MBG Bangkitkan Semangat Siswa Sekolah Darurat di Agam

Agam - Di sebuah masjid sederhana di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, suara lantunan ayat suci dan pelajaran yang dibacakan bergantian terdengar setiap pagi. Lantai yang dulu hanya dipakai untuk salat kini menjadi ruang belajar darurat bagi siswa MTs Muhammadiyah Selaras Air. Di antara mereka, Atifa Rabiyatul, 16 tahun, duduk bersila dengan seragam sederhana dan semangat yang tak ikut hanyut bersama banjir bandang yang menghancurkan sekolahnya.

Bencana itu datang tanpa permisi. Hujan turun lebih dari sepekan tanpa henti hingga akhirnya pada 27 November 2025 sore, banjir bandang meluluhlantakkan gedung sekolah mereka di Kampung Tengah, sekitar lima kilometer dari lokasi belajar sekarang. “Sekolah itu sudah habis, hanya tinggal fondasinya saja,” kata Kepala MTs Muhammadiyah Selaras Air, Wildan Habib. Satu siswa meninggal dunia, dua guru menjadi korban luka, dan puluhan siswa kehilangan ruang belajar yang selama ini menjadi tempat mereka menata mimpi.

Atifa masih mengingat suasana sekolah lamanya. “Suasana belajarnya yang di kelas. Terus kumpul sama teman yang udah gak ada, udah pergi,” ujarnya lirih. Teman sekelasnya, Roni Fikri, menjadi salah satu korban meninggal dunia. “Dia sering bercanda sama kami, sama teman-teman. Cukup menghibur,” kata Atifa. Kehilangan itu nyata, tetapi tak membuatnya menyerah.

Kini, ia belajar di masjid bersama teman-teman dari kelas lain. Proses belajar belum sepenuhnya normal. Dalam sehari, hanya satu atau dua mata pelajaran yang dibahas, ditambah tahfiz dan mengaji bersama. Banyak siswa masih terkendala jarak dan akses; jembatan yang rusak membuat sebagian tak bisa hadir. Namun bagi Atifa, keadaan darurat itu bukan alasan untuk berhenti bermimpi. “Enggak, soalnya punya cita-cita yang harus diwujudkan,” katanya ketika ditanya apakah kondisi seadanya mengurangi semangatnya. Ia ingin menjadi guru.

Di tengah keterbatasan itu, ada satu hal yang perlahan menjadi penguat baru bagi anak-anak: pembagian Makan Bergizi Gratis yang rutin mereka terima. Sejak awal semester genap, makanan dibagikan secara teratur di sekolah darurat tersebut. Bagi sebagian siswa, kehadiran MBG bukan sekadar soal asupan gizi, tetapi juga alasan untuk tetap datang dan berkumpul. “Senang, soalnya gak perlu bawa bekal dari rumah lagi,” ujar Atifa. Ia mengaku menu yang diterima selalu habis disantap. “Habis. Enak.”

Sebelum ada program tersebut, Atifa membawa bekal sekaligus uang jajan lebih dari sepuluh ribu rupiah per hari. Kini, karena jarak sekolah lebih jauh, uang jajannya sekitar lima belas ribu rupiah. Namun dengan adanya MBG, beban orang tua sedikit berkurang. “Iya bisa,” katanya saat ditanya apakah uang jajannya jadi lebih hemat. Bahkan untuk menu kering yang dibagikan dua kali sepekan, ia menilai tetap membantu. “Soalnya kan gak usah beli apa lagi.”

Kepala sekolah Wildan Habib melihat perubahan itu. Ia menyadari, di tengah trauma dan keterbatasan fasilitas, konsistensi pembagian MBG ikut menjaga ritme kehadiran siswa. “Pelajaran itu bukan untuk guru yang menyampaikan, tetapi untuk siswa yang menerima,” ujarnya. Karena itu, selain membangun kembali ruang belajar, ia dan para guru berupaya memastikan anak-anak tetap punya alasan untuk datang ke sekolah—dan makanan bergizi yang rutin dibagikan menjadi salah satu penguatnya.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional