Inovasi Zero Waste SPPG Tridadi 3 Menguatkan Desa
Nomor: ARTIKEL-27/BGN/11/2025
Artikel • 5 Desember 2025
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan Humas BGNSleman — Di tengah hiruk-pikuk aktivitas dapur produksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sleman Tridadi 3, ada alur kerja yang tidak biasa. Tidak ada tumpukan sampah makanan, tidak ada limbah minyak yang dibuang begitu saja, dan tidak ada sisa produksi yang sia-sia. Semuanya diolah kembali menjadi energi, pakan ternak, hingga menghasilkan protein baru. Konsep zero waste yang biasanya ditemui di industri besar, kini hidup di sebuah desa di Kabupaten Sleman.
SPPG Tridadi 3 menjadi satu-satunya layanan gizi di Sleman yang mengembangkan sistem ekonomi sirkular secara terukur. Minyak jelantah dari dapur diolah menjadi biosolar, sementara sisa makanan diolah menjadi pakan bebek. Menariknya, bebek hasil ternak kembali dipanen dan menjadi bagian dari menu bergizi yang disajikan kepada peserta program. Sebuah lingkaran manfaat tanpa limbah efisien, ramah lingkungan, dan menguntungkan masyarakat.
Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menyebut inovasi ini sebagai terobosan yang selaras dengan arah kebijakan BGN dalam mewujudkan pelayanan gizi yang berkelanjutan.
“Model zero waste yang diterapkan SPPG Tridadi 3 menunjukkan bahwa pelayanan gizi tidak hanya soal makanan, tapi juga soal cara kita merawat lingkungan. Ini bukti bahwa desa mampu mempraktikkan ekonomi sirkular dengan pendekatan yang sederhana, murah, dan langsung berdampak,” jelas Hida di Sleman, Jumat (5/12).
Di dapur produksi, setiap proses sudah dirancang agar minim limbah. Bahan pangan disiapkan sesuai takaran, sisa olahan dipilih berdasarkan kategori, hingga pengelolaan minyak dilakukan terukur untuk memastikan kualitas biosolar yang aman digunakan. Semua dijalankan oleh tim lokal yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan sanitasi, pengolahan, dan pengelolaan limbah.
Kepala SPPG Sleman Tridadi 3, Anatansyah Ayomi Anandari, menuturkan bahwa konsep zero waste tersebut tumbuh dari semangat masyarakat untuk mengurangi beban lingkungan.
“Kami ingin memastikan setiap bahan yang masuk ke dapur ini memiliki kehidupan kedua. Minyak jelantah kami simpan dan olah, sisa makanan kami jadikan pakan bebek, sementara bebeknya menjadi sumber protein lokal yang sehat. Ini bukan hanya tentang efisiensi, tapi tentang budaya desa yang menghargai alam,” ujarnya.
Selain ramah lingkungan, pendekatan ekonomi sirkular ini menciptakan putaran ekonomi baru bagi warga sekitar. Kegiatan pengumpulan minyak jelantah, pengolahan pakan, hingga budidaya bebek dilakukan bersama UMKM dan masyarakat desa. Kolaborasi ini membuka peluang pendapatan tambahan sekaligus memperkuat kemandirian pangan.
Hida menegaskan bahwa BGN melihat SPPG Tridadi 3 sebagai contoh terbaik integrasi program gizi dengan pembangunan berkelanjutan.
“Inovasi seperti ini menunjukkan bagaimana layanan publik bisa menjadi pusat solusi lingkungan. SPPG Tridadi 3 patut menjadi rujukan daerah lain karena berhasil menyatukan ketahanan pangan, edukasi, dan keberlanjutan dalam satu ekosistem,” tambahnya.
Dengan konsep zero waste yang berjalan nyata, SPPG Sleman Tridadi 3 kini tidak hanya dikenal sebagai dapur pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai laboratorium hidup inovasi desa dalam menciptakan lingkungan yang bersih, ekonomi yang bergerak, dan pangan yang lebih berkelanjutan.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional