Integrasi Edukasi Gizi dalam Kurikulum: Langkah Strategis Menuju Generasi Sehat
Nomor: ARTIKEL-18/BGN/07/2025
Artikel • 22 Juli 2025
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan Humas BGNAnak-anak dengan rentang usia 6-12 tahun merupakan aset masa depan bangsa yang memiliki potensi besar dalam melanjutkan pembangunan Indonesia. Menyadari pentingnya masa pertumbuhan ini, pemerintah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya menyediakan akses makanan sehat dan bergizi seimbang bagi seluruh kelompok sasaran. Program ini bukan sekedar pemenuhan makan bergizi, namun juga investasi jangka Panjang dalam menciptakan generasi yang lebih sehat dan produktif.
Namun, keberhasilan program ini tak bisa bergantung pada penyediaan makanan semata. Diperlukan dukungan dari aspek non-materiil, terutama dalam membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat akan pentingnya gizi seimbang. Di sinilah edukasi gizi memainkan peran krusial, baik melalui kurikulum formal sekolah maupun pendekatan di luar ruang kelas, guna mengoptimalkan dampak dari kebijakan pemerintah tersebut.
Data dari UNICEF tahun 2023 mencatat bahwa Indonesia memiliki 72 juta anak, sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah anak terbanyak ketujuh di dunia. Fakta ini memperkuat urgensi membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat secara fisik dan mental melalui pendekatan yang sistematis dan menyeluruh, termasuk di bidang gizi.
Gizi yang tepat di masa tumbuh kembang memegang peran vital dalam perkembangan otak, kemampuan berpikir, konsentrasi, dan pertumbuhan fisik anak. Oleh karena itu, memastikan asupan nutrisi yang memadai di usia dini menjadi prioritas utama.
Ikeu Tanziha selaku Juru Bicara BGN mengatakan bahwa, “Pendidikan gizi memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan demand anak-anak dalam mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan tubuh dan berkembang dengan optimal,” jelas Ikeu dalam kesempatan konferensi pers pada Jumat, (18/07).
Salah satu strategi yang dinilai efektif adalah mengintegrasikan pendidikan gizi ke dalam kurikulum sekolah. Sekolah merupakan ruang pembelajaran yang terstruktur dan menjangkau anak-anak secara luas, menjadikannya tempat yang ideal untuk memperkenalkan konsep dasar gizi. Dengan kurikulum yang menyisipkan edukasi gizi, anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga dapat langsung mempraktikkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari terutama selaras dengan pelaksanaan Program MBG.
Melalui pendekatan ini, siswa akan lebih memahami hubungan antara pola makan, kesehatan tubuh, dan kualitas hidup mereka. Edukasi gizi yang terintegrasi juga dapat mencakup materi penting seperti kelompok makanan, ukuran porsi, fungsi zat gizi dalam tubuh, serta dampak buruk dari pola makan yang tidak sehat.
Meski demikian, Ikeu juga menekankan bahwa implementasi edukasi gizi di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah ketimpangan pengetahuan tentang gizi di kalangan pendidik maupun masyarakat luas.
“Edukasi gizi di Indonesia sangat mungkin untuk diterapkan dan diintegrasikan dalam kurikulum sekolah. Namun, saat ini pelaksanaannya masih mengalami kendala, di antaranya karena pengetahuan terkait gizi masih belum merata,” lanjutnya.
Sebagai bentuk strategi, BGN saat ini tengah menggencarkan program sosialisasi dan edukasi gizi ke berbagai sekolah, pemerintah daerah, hingga komunitas. Kolaborasi dengan kementerian dan lembaga lain pun terus diperkuat. Tak hanya itu, kampanye edukatif melalui media sosial juga aktif dilakukan dengan menghadirkan konten visual dan audiovisual yang ringan namun informatif.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional