Berita

/

Artikel

/

“Kami Jadi Lebih Tenang”: Kisah Ibu-Ibu Mengawal MBG di SDN Jogjogan 01

“Kami Jadi Lebih Tenang”: Kisah Ibu-Ibu Mengawal MBG di SDN Jogjogan 01

Nomor: ARTIKEL-82/BGN/04/2026

Artikel 24 April 2026

picture-“Kami Jadi Lebih Tenang”: Kisah Ibu-Ibu Mengawal MBG di SDN Jogjogan 01

Bogor — Pagi di SDN Jogjogan 01, Kabupaten Bogor, kini memiliki ritme yang berbeda. Di tengah kesibukan mengantar anak dan memulai aktivitas harian, sekelompok ibu tampak sigap berkumpul di halaman sekolah. Mereka menyambut kedatangan kotak-kotak makanan dengan penuh perhatian.

Mereka bukan petugas resmi. Mereka adalah orang tua siswa, para ibu yang dengan sukarela mengambil peran sebagai koordinator kelas dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Satu per satu kotak makanan dihitung dengan teliti. Mereka memastikan jumlahnya sesuai, memeriksa kondisinya, lalu mendistribusikannya ke setiap kelas. Setelah jam makan usai, mereka kembali bergerak, mengumpulkan wadah makanan agar dapat dibawa kembali ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jogjogan Cisarua.

“Kami selalu cek dulu makanannya, memastikan jumlahnya pas dan aman untuk anak-anak,” ujar Hasanah, salah satu koordinator kelas, pada Jumat (17/4).

Keterlibatan ini lahir dari rasa ingin tahu sekaligus kekhawatiran. Di awal program, berbagai pemberitaan tentang MBG sempat membuat para orang tua ragu. Namun alih-alih menjauh, mereka memilih untuk terlibat langsung melihat, memastikan, dan merasakan sendiri bagaimana program ini berjalan.

“Awalnya pasti ada rasa khawatir karena lihat berita di luar. Tapi setelah kami lihat langsung di sini, alhamdulillah aman. Menunya juga variatif, rasanya enak, dan tampilannya menarik,” tutur salah satu perwakilan korlas.

Seiring waktu, kehadiran mereka bukan hanya menjadi bagian dari proses distribusi, tetapi juga membangun rasa percaya. Pengawasan yang dilakukan secara langsung memberi ketenangan, tidak hanya bagi diri mereka sendiri, tetapi juga bagi orang tua lainnya.

Di sisi lain, program MBG juga membawa perubahan dalam keseharian mereka. Rutinitas pagi yang biasanya dipenuhi dengan kesibukan menyiapkan bekal kini terasa lebih ringan.

“Kami sebagai ibu sangat terbantu. Pagi hari biasanya sibuk, sementara anak-anak harus berangkat sekolah. Dengan adanya MBG, kami jadi lebih tenang karena mereka pasti mendapat makan di sekolah,” ungkapnya.

Kebahagiaan itu juga terlihat dari antusiasme anak-anak. Sejak pertama kali MBG hadir pada Oktober lalu, mereka menyambut program ini dengan penuh semangat. Namun seperti anak-anak pada umumnya, preferensi tetap ada.

“Ada yang suka ayam bakar, tapi kurang suka kalau menunya telur atau ikan. Untuk buah juga begitu, mereka lebih suka lengkeng atau jeruk dibanding pisang,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi para ibu, setiap komentar kecil dari anak-anak bukan sekadar keluhan, melainkan masukan yang penting. Mereka secara aktif menyampaikan evaluasi kepada pihak SPPG, menciptakan komunikasi dua arah yang terbuka dan responsif.

“Kalau ada keluhan, kami sampaikan. Alhamdulillah pihak SPPG kooperatif dan mau menerima masukan,” tambahnya.

Kolaborasi ini juga dirasakan manfaatnya oleh pihak sekolah. Dengan adanya dukungan dari koordinator kelas, proses distribusi makanan berjalan lebih tertib, sehingga guru dapat tetap fokus pada kegiatan belajar mengajar.

Lebih dari sekadar program pemenuhan gizi, MBG di SDN Jogjogan 01 telah menjadi ruang kolaborasi antara sekolah dan orang tua. Di dalamnya, rasa khawatir perlahan berubah menjadi kepercayaan dibangun melalui keterlibatan, keterbukaan, dan pengalaman langsung.

“Jangan takut dengan MBG. Ini program yang sangat baik. Kita perlu ikut mengawasi bersama, insyaallah aman,” pungkasnya.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional