Kisah Alfarizi, Bibit Emas dari Kabupaten Pidie
Nomor: ARTIKEL-05/BGN/02/2026
Artikel • 23 Februari 2026
Sumber:
Dok. Biro Hukum dan HumasAceh – Matahari pagi perlahan menyinari hamparan tanah di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Di sebuah sudut desa yang tenang, Alfarizi, putra sulung pasangan Anita dan Kusriadi, bersiap memulai harinya. Dengan sepeda kecilnya, ia mengayuh pelan menyusuri jalan desa yang berjarak kurang dari satu kilometer menuju sekolah. Langkahnya sederhana, tetapi semangatnya penuh keyakinan.
Di balik kehidupannya yang serba terbatas, Alfarizi dikenal sebagai anak yang tekun dan disiplin. Di sekolah, ia menunjukkan kesungguhan yang jarang ditemui pada anak seusianya.
“Saya kagum dengan Alfarizi. Meskipun berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, ia sangat tekun dan rajin selama di kelas,” ujar Husna, Plt. Kepala Sekolah SDN MNS Peureulak, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie.
Sebagai penerima bantuan Program Indonesia Pintar, Alfarizi memanfaatkan kesempatan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sederhana, ia mampu menorehkan prestasi dengan menembus peringkat 10 besar di sekolahnya. Tak hanya unggul secara akademik, Alfarizi juga dikenal sebagai salah satu siswa penghafal Al-Qur’an.
Kepribadiannya pun mencerminkan ketulusan. Ia periang, mudah bergaul, dan selalu menebarkan senyum. Seolah keadaan tak pernah membatasi cita-citanya untuk melangkah lebih jauh.
Di rumah, kehidupan berjalan dalam kesederhanaan. Sang ibu bekerja sebagai buruh cuci, sementara ayahnya bekerja cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara dengan dua adik yang masih balita, Alfarizi telah belajar memahami arti tanggung jawab sejak dini.
Sepulang sekolah, ia tidak langsung bermain. Alfarizi membantu menjaga kedua adiknya ketika orang tuanya masih bekerja. Di rumah sederhana berdinding bilik kayu itu, keteguhan dan kedewasaan kecilnya tumbuh dari hari ke hari.
Keluarga Alfarizi juga menjadi salah satu penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut tidak hanya dirasakan oleh Alfarizi, tetapi juga oleh sang ibu dan kedua adiknya.
Saat bulan Ramadan tiba dan waktu berbuka puasa menjelang, hidangan dari MBG menjadi pelengkap kebersamaan keluarga mereka.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur karena MBG ini membantu menekan biaya pengeluaran sehari-hari,” tutur Anita, ibunda Alfarizi, dengan mata berbinar.
Bagi Alfarizi, kebahagiaan sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana.
“Aku sangat senang ada MBG karena bisa makan anggur dan puding.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi seorang anak kelas lima sekolah dasar yang tumbuh dalam keterbatasan, anggur dan puding bukan sekadar makanan, melainkan pengalaman yang jarang ia rasakan sebelumnya.
Kisah Alfarizi menjadi potret bahwa Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar distribusi pangan. Program ini hadir sebagai penguat harapan, memberi ruang bagi anak-anak untuk tumbuh sehat, belajar dengan tenang, serta memupuk mimpi tanpa terlalu dibebani persoalan kebutuhan dasar di rumah.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional