Berita

/

Artikel

/

Pak Nur Salim, Petani Tangguh Penggerak Ekonomi Lokal Lewat MBG

Pak Nur Salim, Petani Tangguh Penggerak Ekonomi Lokal Lewat MBG

Nomor: -

Artikel 11 Juli 2025

picture-Pak Nur Salim, Petani Tangguh Penggerak Ekonomi Lokal Lewat MBG

Nomor: ARTIKEL-16/BGN/07/2025


Bukan sekedar petani, Nur Salim adalah jantung yang memompa kehidupan pertanian di Dusun Lampu, Kelurahan Pucang Anom, Kecamatan Serumbung, Kabupaten Magelang. Sosok sederhana yang sehari-hari bergelut dengan tanah, cangkul, dan pupuk, kini menjadi figur harapan para petani di wilayahnya.

Pada 11 Juli 2025, tim Badan Gizi Nasional Republik Indonesia melakukan kunjungan ke dusun kecil ini. Tujuannya tak lain adalah untuk memotret kisah-kisah inspiratif dari para pelaku ketahanan pangan yang turut menyokong program Makan Bergizi Gratis (MBG). Perjalanan Pak Nur Salim sebagai pemasok dapur MBG, menarik perhatian kami.

Musim paceklik bukan hal baru bagi petani, tetapi tidak semua mampu bertahan. Harga jual hasil panen yang merosot tajam, ditambah harga pupuk yang tak kunjung turun, menjadi cobaan bertubi-tubi. Namun, di saat banyak petani menyerah, Pak Nur tetap kokoh berdiri. 

"Kami tidak bisa bergantung pada nasib. Kalau kita tidak bergerak, siapa lagi?" ujarnya dengan sorot mata penuh tekad.

Ia memimpin kelompok tani di desanya, menjadi motor penggerak dalam menciptakan solidaritas petani dan menjaga keberlangsungan produksi sayuran lokal, meski dalam tekanan ekonomi seperti saat ini.

Sebelum MBG hadir, pasar hasil pertanian di Dusun Lampu cenderung tidak menentu. Tengkulak sering menjadi satu-satunya jalan distribusi, hal ini menyebabkan harga jualnya kurang menguntungkan bagi petani. Dengan masuknya program MBG, rantai pasok berubah drastis. Petani seperti Pak Nur mulai mendapatkan kepastian penjualan, harga yang adil, dan jaringan distribusi langsung ke dapur MBG.

"Dulu kami menjual tanpa tahu pasti berapa yang laku. Sekarang, kami produksi sesuai kebutuhan MBG, dan pendapatan jadi stabil. Bahkan tenaga kerja lokal bisa ikut terlibat," jelasnya.

Program ini tidak hanya membantu Pak Nur secara individu, tetapi juga membuka ekosistem baru dari lahan ke dapur dan melibatkan banyak lapisan masyarakat sekitar. Tanpa perantara, para petani memiliki kendali penuh atas produk mereka, sesuai dengan kesepakatan dengan pihak dapur MBG.

Ketika ditanya tentang harapannya, Pak Nur menegaskan agar program MBG tetap berjalan dalam jangka panjang. 

"Ini bukan sekadar bantuan. Ini jalan hidup baru untuk petani desa seperti kami," ucapnya sembari menerawang jauh ke ladang di depannya.  

Ia percaya bahwa MBG bisa menjadi jalan panjang menuju kedaulatan pangan yang berakar dari masyarakat bawah.

Di akhir wawancara, sambil memetik cabai merah dengan tangan berlumur tanah, Pak Nur tersenyum. Dalam senyumnya tersimpan harapan, bahwa petani milenial bisa tumbuh tanpa rasa takut akan masa depan, dan bahwa perjuangan petani hari ini akan menjadi pijakan kokoh bagi anak-anak Indonesia yang tumbuh sehat dan bergizi.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional