Panen Manis dari Pidie: Perjalanan Zubir dan Dampak Nyata Program MBG
Nomor: ARTIKEL-06/BGN/02/2026
Artikel • 23 Februari 2026
Sumber:
Dok. Biro Hukum dan HumasAceh – Hamparan semangka seluas lima hektar membentang hijau di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Di balik kebun yang kini semakin luas itu, tersimpan perjalanan panjang seorang petani bernama Muhammad Zubir yang telah menekuni budidaya semangka selama sepuluh tahun terakhir.
Awalnya, Zubir hanya mengelola lahan seluas satu hektar. Ia menanam semangka secara sederhana dan menjualnya kepada warga sekitar. Bahkan, pada masa awal merintis, sebagian hasil panen ia bagikan secara cuma-cuma.
“Awal mulanya saya tanam semangka lalu saya bagikan saja ke warga sekitar. Tidak menyangka akhirnya semangka saya bisa masuk ke supermarket dan bisa memasok ke dapur MBG,” ujar Zubir saat ditemui di kebunnya, Senin (23/2).
Berkat ketekunan menjaga kualitas produksi, semangka milik Zubir perlahan menembus pasar yang lebih luas. Dari pasar lokal, hasil panennya kini tersuplai ke sejumlah supermarket di Banda Aceh. Momentum semakin terasa ketika Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan dan membuka peluang kemitraan baru bagi petani lokal.
Menurut Zubir, kehadiran program MBG membawa dampak signifikan terhadap roda perekonomiannya. Sebelum ada program tersebut, tidak sedikit buah yang terbuang karena tidak terserap pasar.
“Sebelumnya banyak sekali buah yang busuk karena tidak laku dijual. Sejak ada program MBG, buah busuk berkurang drastis dan penghasilan bertambah 75 persen dari sebelumnya,” ungkapnya.
Dalam satu kali panen, kebunnya mampu menghasilkan hingga 20 ton semangka. Rata-rata bobot tiap buah mencapai 5–6 kilogram, bahkan ada yang menembus 9 kilogram. Dengan harga jual sekitar Rp12 ribu per buah, pendapatan yang sebelumnya berkisar Rp200 juta per panen kini meningkat menjadi sekitar Rp350 juta.
“Alhamdulillah pendapatan juga lebih meningkat 75 persen. Dari 200 juta dalam sekali panen, sekarang bisa sampai 350 juta,” ucapnya penuh syukur.

Panen buah semangka di kebun milik Pak Zubir, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh
Bagi Zubir, semangka menjadi komoditas unggulan karena memiliki nilai jual tinggi dan relatif mudah dibudidayakan. Proses penanamannya dimulai dari pengolahan lahan yang digemburkan menggunakan traktor serta dipupuk agar subur. Setelah sekitar 10 hari, biji tumbuh menjadi benih dan dipindahkan ke lahan tanam yang lebih luas. Dengan penyiraman rutin dan pemupukan teratur, dalam waktu dua bulan semangka siap dipanen.
Peningkatan permintaan tidak hanya berdampak pada luas lahan, tetapi juga pada penyerapan tenaga kerja. Jika sebelumnya ia hanya mempekerjakan 10 orang, kini jumlah pegawai di kebunnya bertambah menjadi 40 orang. Mereka dibagi ke dalam empat regu, masing-masing bertanggung jawab mengelola satu hektar lahan. Mayoritas pekerja berusia antara 20 hingga 30 tahun.
Pertumbuhan usaha ini juga mendorong Zubir melakukan ekspansi ke komoditas lain seperti gambas, cabai, dan timun, sebagai langkah diversifikasi dan penguatan usaha pertanian.
Lebih dari sekadar peningkatan pendapatan, Zubir merasakan kebanggaan karena dapat berkontribusi dalam rantai pasok program MBG sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.
“Saya bersyukur selain kebun saya semakin berkembang, saya juga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar yang membutuhkan,” tuturnya.
Dari satu hektar menjadi lima hektar, dari pasar kampung hingga dapur MBG perjalanan Zubir menjadi gambaran bagaimana sinergi antara program pemerintah dan petani lokal dapat menghadirkan dampak ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional