Pukul 02.30 dan Ribuan Porsi Harapan: Dedikasi Hayatunnisa di Dapur MBG
Nomor: ARTIKEL-93/BGN/05/2026
Artikel • 3 Mei 2026
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan HumasBogor — Jarum jam belum lama melewati pukul 02.30 dini hari ketika Hayatunnisa mulai bersiap. Di saat sebagian besar orang masih terlelap, ia sudah berada di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jogjogan Silma 2, memulai hari yang bagi banyak orang bahkan belum dimulai.
Di ruang yang perlahan dipenuhi aktivitas itu, proses memasak bukanlah akhir. Ada satu tahap yang menentukan sebelum makanan sampai ke tangan para siswa: pemorsian.
Di sinilah Hayatunnisa mengambil perannya.
Sebagai relawan bagian pemorsian, perempuan 26 tahun itu bertugas memastikan setiap makanan yang telah dimasak dibagi dengan tepat, jumlahnya sama, tampilannya rapi, dan yang terpenting, tetap higienis.
“Harus lebih hati-hati. Karena ini untuk anak-anak, kita nggak tahu kondisi masing-masing. Jadi harus benar-benar dijaga kebersihan dan kualitasnya,” ujarnya.
Pekerjaan itu menuntut ketelitian dalam waktu yang terbatas. Ritme dapur yang cepat tidak memberi banyak ruang untuk kesalahan. Namun, bagi Hayatunnisa, kunci utamanya bukan kecepatan semata, melainkan fokus.
“Yang penting fokus. Jangan terlalu lihat waktu terus, nanti malah panik. Kalau kita teliti dan fokus, pekerjaan jadi lebih mudah,” katanya.
Di tahap pemorsian, konsistensi menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Setiap porsi harus sama, tidak lebih, tidak kurang. Sebab dari situlah keadilan layanan dan kualitas program dijaga.
Pengalaman membantu usaha katering keluarga sebelumnya membuatnya tidak asing dengan pekerjaan dalam skala besar. Namun, bekerja di dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberinya perspektif yang berbeda.
“Kalau di sini, kita harus lebih rapi dan lebih teliti. Karena yang kita siapkan jumlahnya banyak dan harus sama semua,” ungkapnya.
Baginya, pemorsian bukan sekadar membagi makanan. Ini adalah tahap akhir yang menentukan apakah makanan benar-benar siap disajikan dengan layak.
Di titik ini, standar kebersihan, kerapian, dan ketepatan benar-benar diuji.
Hayatunnisa juga percaya bahwa kualitas tidak ditentukan oleh satu orang saja. Setiap bagian di dapur memiliki peran yang saling terhubung.
“Sekecil apa pun pekerjaannya, tetap harus dilakukan dengan benar. Karena hasilnya langsung diterima orang lain,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya menjalankan setiap proses sesuai standar operasional. Bagi dirinya, disiplin terhadap aturan adalah bagian dari tanggung jawab.
“Kalau ada yang tidak sesuai SOP itu sangat disayangkan. Peraturan kerja seharusnya ditaati,” tegasnya.
Di tengah ritme dini hari dan ratusan, bahkan ribuan porsi yang harus disiapkan, Hayatunnisa menemukan makna dalam pekerjaannya.
Bukan sekadar rutinitas, tetapi kontribusi nyata.
Di balik setiap kotak makanan yang diterima siswa, ada rangkaian proses yang panjang dan terjaga. Dan di tahap akhir itulah, Hayatunnisa memastikan semuanya selesai dengan teliti agar apa yang sampai ke tangan anak-anak bukan hanya makanan, tetapi juga hasil dari kerja yang penuh tanggung jawab.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional