Berita

/

Artikel

/

Satu Detik Satu Ompreng: Inovasi Teknologi Ala SPPG Banyuwangi Magelang

Satu Detik Satu Ompreng: Inovasi Teknologi Ala SPPG Banyuwangi Magelang

Nomor: ARTIKEL-22/BGN/10/2025

Artikel 25 Oktober 2025

picture-Satu Detik Satu Ompreng: Inovasi Teknologi Ala SPPG Banyuwangi Magelang

Magelang, 24 Oktober 2025 - Di tengah tantangan dan hambatan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, berhembus angin segar tentang inovasi anak negeri dalam meningkatkan kualitas dan efektivitas MBG. Kabar baik tersebut berasal dari salah satu sudut Kabupaten Magelang, tepatnya di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banyuwangi Magelang yang dinahkodai Dimas Bagas Endaryo. Nyaris tidak ada yang tahu bahwa SPPG ini memiliki inovasi dalam hal teknologi dan sistem informasi. Tak hanya menunjang tata kelola SPPG, inovasi ini menjadi contoh nyata bagaimana digitalisasi mampu meningkatkan efisiensi, ketepatan, dan keamanan pangan bagi ribuan penerima manfaat.

Dalam sebuah kunjungan singkat, kami berkesempatan melihat bagaimana alur dan sistem kerja yang diciptakan SPPG. SPPG mengembangkan sistem teknologi digital yang menyeluruh, mulai dari tahap persiapan bahan baku hingga penyajian akhir. Tujuan utamanya sederhana namun penting: meningkatkan keamanan pangan, efektivitas waktu, dan efisiensi dalam perhitungan bahan baku. Melalui sistem ini, setiap jenis bahan yang digunakan dalam pembuatan menu dapat dihitung secara akurat sesuai jumlah porsi yang dibutuhkan. Sistem ini juga memungkinkan tercapainya visi SPPG dalam praktik zero food waste.

SPPG memiliki dasbor khusus yang terintegrasi dan dapat diakses secara real time. Data dilacak melalui penggunaan barcode system pada stainless steel gastronom food pan — wadah bahan baku siap olah. Setiap bahan yang masuk ke dapur akan dipindai dan tercatat secara digital, mencakup jenis, jumlah, kondisi bahan, cara memasak, kandungan bahan dan sebagainya. Data tersebut kemudian tersimpan di sistem, dapat diakses oleh seluruh petugas SPPG secara real time untuk memastikan seluruh proses termonitor dan terkontrol dengan baik.

Dimas selaku Kepala SPPG menyampaikan bahwa terdapat beberapa kali pemindaian barcode demi memastikan MBG yang dihasilkan terkontrol.
“Setidaknya terdapat 3 kali pemindaian barcode pada gastronom food pan, yaitu saat bahan baku masuk, bahan baku keluar dari lemari pendingin dan siap diolah, serta sesaat setelah bahan selesai dimasak. Selanjutnya, setiap ompreng juga terpasang barcode yang telah tercatat dalam database SPPG. Tujuannya untuk mengetahui secara real time jumlah porsi yang telah dibuat serta keakuratan gramasi yang dihasilkan sesuai AKG. Melalui sistem ini, kami berusaha menjamin agar keamanan pangan terjaga mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga pemorsian dan distribusi,” ujar Dimas sembari menunjukkan peralatan pemindai barcode milik SPPG.

Melalui sistem yang telah terbangun, perhitungan jumlah bahan baku yang dibutuhkan akan lebih mudah dan akurat, sehingga meminimalisasi bahan baku kurang ataupun berlebih.  Sistem  juga akan mencatat data komparatif antara kondisi bahan baku awal dan saat siap diolah sehingga dapat digunakan sebagai bank data kedepannya dalam menyusun kebutuhan menu. Tak berhenti di situ, ketika makanan selesai dimasak, barcode kembali dipindai untuk menghitung hasil akhir. Langkah ini menjadi bagian penting dalam pengendalian mutu, memastikan total bahan baku yang digunakan benar-benar memenuhi kebutuhan jumlah porsi dan gramasi sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG).

Satu Detik, Satu Porsi Ompreng Dihasilkan

Ruang Pemorsian di SPPG Banyuwangi Magelang menyajikan pemandangan berbeda dari SPPG pada umumnya. Jika biasanya ruang pemorsian familiar dengan susunan deret meja Panjang berbahan stainless, ruang pemorsian di SPPG ini didesain lebih minimalis namun jauh lebih efisien. Terdapat modifikasi tatakan ompreng pengganti meja yang memudahkan relawan pemorsian untuk menggeser ompreng dengan “effortless”. Kurang lebih tersusun sebanyak 4 baris. Tentu ini jauh lebih ergonomis dan mempercepat kinerja tim pemorsian.

Konon, setiap detik terdapat satu porsi yang tersusun apik di dalam ompreng.
“Setiap satu detik, di ujung baris pemorsian terdapat satu ompreng MBG lengkap yang siap ditata. Ini sangat memudahkan pekerjaan teman-teman dan mempersingkat waktu dalam proses pemorsian,” tambah Dimas.

Dengan total 3.542 penerima manfaat yang dilayani setiap harinya, sistem ini menjadi bukti nyata bagaimana integrasi teknologi dapat memperkuat tata kelola pelayanan gizi. Tata kelola yang terbangun turut mendukung SPPG dalam memberikan kualitas MBG yang maksimal dan jangka waktu yang singkat sejak makanan diolah hingga didistribusikan. Semua upaya ini bermuara pada satu tujuan yaitu menjaga kualitas dan keamanan pangan demi peningkatan gizi yang optimal bagi seluruh penerima manfaat, generasi penerus Bangsa Indonesia.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional