Sebelum Resmi Jadi SPPG, Lebih Dulu Dimanfaatkan Sebagai Dapur Darurat Bencana
Nomor: ARTIKEL-08/BGN/02/2026
Artikel • 23 Februari 2026
Sumber:
Internal BGNAgam – Asap dari tungku dapur itu sudah lebih dulu mengepul bahkan sebelum plang nama resminya terpasang. Bangunan yang kini dikenal sebagai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Palembayan Salareh Aia sempat menjadi dapur darurat saat bencana longsor disertai banjir bandang melanda Sumatera dan Aceh pada 27 November 2025 lalu.
Kepala SPPG Palembayan Salareh Aia, Fagel, mengatakan bahwa dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) ini baru diresmikan pada 19 Januari 2026. Lalu, dia mulai mengisahkan bagaimana semuanya bermula menjadi dapur darurat.
"Awalnya, kami dipanggil sama pihak Madrasah Nurul Iman. Waktu itu kami dipanggil karena gas mereka habis. Jadi, kami dari SPPG berinisiatif memberikan bantuan berupa peminjaman tabung gas elpiji," ujarnya sembari mengingat masa itu, Senin (23/2).
Tanpa prosedur panjang, ia dan tim berinisiatif meminjamkan tabung elpiji tersebut. Statusnya pinjaman, tetapi satu tabung berisi penuh diberikan sebagai bantuan awal pascabencana. Sekolah cukup mengisi ulangnya ketika kosong.
Langkah kecil itu kemudian melebar. Tak hanya sekolah, dapur umum di sekitar Salareh Aia juga diprioritaskan agar proses memasak untuk warga terdampak tidak terhenti karena kehabisan bahan bakar.
Namun distribusi tak selalu mudah. Akses jalan tertutup material longsor dan batu besar. Di beberapa titik, tabung gas harus dipikul bersama relawan untuk mencapai lokasi yang terisolasi.
"Kendala utamanya adalah akses jalan. Seperti yang kita lihat sendiri, banyak jalan yang tertimbun material longsor dan batu-batu besar. Jadi, kami harus memutar atau terkadang mengangkut tabung-tabung itu secara manual bersama relawan lain untuk sampai ke titik yang terisolir," ucap Fagel.
Malam Penuh Warga dan Butuhnya Daya Listrik

Bagi Fera, warga terdampak yang kini menjadi relawan bagian packing di SPPG Palembayan Salareh Aia, mengungkapkan tempat tersebut menyimpan kenangan yang tak mudah dilupakan.
Pada malam pertama setelah bencana, ratusan warga berkumpul di lokasi tersebut, mencari perlindungan sementara. Suasana kala itu dipenuhi kecemasan, namun juga rasa kebersamaan antarwarga yang saling menguatkan di tengah situasi sulit.
Siang hari mereka kembali ke rumah masing-masing untuk mengecek kondisi. Namun malam menjadi waktu berkumpul. Mitra dari Badan Gizi Nasional (BGN) saat itu, berinisiatif menyediakan genset. Anak-anak sekolah datang untuk mengisi daya ponsel.
Di tengah gelap dan ketidakpastian, cahaya lampu dan suara genset menjadi penanda bahwa kehidupan masih berjalan. "Mitra (BGN) kayak Pak Tommy itu menyediakan genset. Jadi yang menumpang cas (charger) HP, cas laptop anak-anak sekolah," ujar Fera.
Malam kedua menjadi titik awal memasak bersama. Mitra menyediakan dana untuk membeli bahan. Menu sederhana seperti mi instan, nasi, dan lauk seadanya. Hangatnya makanan lebih berarti daripada variasinya.
"Hari keduanya itu yang malam kami masak inisiatif dari mitra. Hari ketiga, hari keempat itu kami yang masak di sini dibagikan warga, itu pun masih inisiatif dari mitra," lanjut Fera sembari memperlihatkan video kondisi warga yang menumpang di SPPG Palembayan Salareh Aia.
Masakan biasanya dibagikan sekali sehari, pada malam hari. Dua hingga tiga kali pembagian dilakukan selama masa darurat, tergantung ketersediaan bahan dan jumlah warga yang datang.
Momen bencana saat itu juga tidak bisa dilupakan oleh Mitra BGN, Tommy. Malam itu, kata dia, wajah-wajah pucat terlihat di antara kerumunan warga yang berdatangan. Listrik padam, komunikasi terputus, dan ketidakpastian menyelimuti suasana. Di tengah situasi yang serba darurat itu, satu per satu warga mencari tempat yang aman untuk berteduh.
"Saya lihat warga pada pucat semua mukanya. Saya langsung inisiatif untuk menampung mereka," ungkap Tommy.
Tanpa banyak pertimbangan, ia membuka ruang yang tersedia agar warga bisa berkumpul dan beristirahat. Tempat yang seharusnya digunakan untuk aktivitas pelaksanaan Program MBG, mendadak berubah fungsi menjadi titik kumpul darurat.
Namun kebutuhan warga bukan hanya tempat berteduh. Di era digital, telepon genggam menjadi penghubung utama dengan keluarga, kerabat, dan informasi terkini. Sayangnya, listrik yang padam membuat banyak perangkat tak lagi bernyawa. Tommy pun bergerak cepat.
"Genset saya sediakan untuk warga yang ingin mengecas HP. Genset ini dari BGN," tuturnya.
Deru genset yang menyala malam itu menjadi bunyi yang menenangkan. Satu per satu warga mengantre, menggenggam ponsel mereka dengan harapan bisa memberi kabar kepada orang-orang terkasih.
Di tengah kondisi darurat, kehadiran fasilitas sederhana seperti listrik cadangan ternyata membawa dampak besar. Bukan hanya soal daya untuk mengisi baterai, tetapi juga tentang memulihkan rasa aman dan keterhubungan.
Bagi Tommy, apa yang dilakukannya adalah bentuk tanggung jawab moral sebagai bagian dari mitra BGN di wilayah tersebut. Ia menyadari, peran SPPG tak berhenti pada pemenuhan gizi semata. Dalam situasi krisis, tempat itu bisa menjadi ruang solidaritas.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional