Berita

/

Berita

/

BGN Dorong Menu MBG Berbasis Selera Lokal

BGN Dorong Menu MBG Berbasis Selera Lokal

Nomor: SIPERS-24C/BGN/01/2026

Berita 16 Januari 2026

picture-BGN Dorong Menu MBG Berbasis Selera Lokal

Jakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong penerapan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berbasis selera lokal agar makanan yang disajikan benar-benar dikonsumsi oleh anak. Pendekatan ini dinilai penting untuk memastikan tujuan pemenuhan gizi tercapai sekaligus menekan sisa makanan di lingkungan sekolah.

Penekanan pada aspek rasa dan budaya makan tersebut menjadi bagian penting dalam Buku Filosofi Pangan dan Politik Gizi – MBG dalam Perspektif Sosial-Budaya, yang mengkaji MBG sebagai kebijakan publik yang tidak hanya bersandar pada standar teknis gizi, tetapi juga mempertimbangkan konteks sosial dan budaya masyarakat.

BGN menilai bahwa standar gizi yang baik perlu berjalan seiring dengan kebiasaan makan daerah. Menu yang sehat namun asing di lidah anak berisiko tidak dikonsumsi secara optimal, sehingga manfaat gizi yang dirancang justru tidak tercapai dan berujung pada pemborosan pangan.

Dalam kerangka tersebut, MBG juga dipandang sebagai sarana pendidikan rasa sejak dini. Anak-anak perlu diperkenalkan pada makanan sehat melalui pendekatan yang bertahap, akrab, dan sesuai dengan pengalaman makan mereka sehari-hari, bukan melalui paksaan atau pendekatan seragam.

Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat BGN sekaligus Penanggung Jawab Buku tersebut, Khairul Hidayati, menegaskan bahwa penerimaan anak terhadap menu MBG sangat menentukan keberhasilan program. “Anak akan lebih patuh pada pola makan bergizi jika rasa makanannya tidak asing. Karena itu, menu MBG harus dirancang dengan memahami budaya dan selera lokal,” ujar Hida di Jakarta, Rabu (16/1).

BGN juga menyoroti bahwa pendekatan berbasis selera lokal dapat menjadi solusi efektif untuk mengurangi sisa makanan di sekolah. Ketika menu disukai dan dikenali anak, tingkat konsumsi meningkat dan risiko makanan terbuang dapat ditekan secara signifikan.

Lebih dari itu, kebijakan menu yang sensitif budaya dinilai mampu membangun hubungan positif antara anak dan makanan. Anak tidak hanya belajar tentang gizi, tetapi juga mengenal dan menghargai ragam pangan di lingkungan sosialnya sendiri.

Hida menambahkan bahwa integrasi standar gizi dengan pendidikan rasa merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan MBG. “Gizi yang baik harus berjalan bersama rasa dan budaya. Dengan cara itu, MBG dapat memberi dampak jangka panjang bagi kesehatan, perilaku makan, dan kualitas hidup anak,” jelas Hida.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional