Berita

/

Berita

/

Di Tengah Keterbatasan Stok, BGN Tetap Hadirkan Susu dalam Menu MBG

Di Tengah Keterbatasan Stok, BGN Tetap Hadirkan Susu dalam Menu MBG

Nomor: SIPERS-454/BGN/12/2025

Berita 31 Desember 2025

picture-Di Tengah Keterbatasan Stok, BGN Tetap Hadirkan Susu dalam Menu MBG

Jakarta - Pakar susu dari Badan Gizi Nasional (BGN), Epi Taufik, mengatakan bahwa hingga saat ini susu belum diwajibkan menjadi menu harian dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kebijakan tersebut diambil untuk memastikan pemerataan pemenuhan gizi di tengah keterbatasan rantai pasok dan kapasitas industri susu nasional. Namun demikian, pemberian susu tetap dilakukan di daerah-daerah yang memiliki ketersediaan dan rantai pasok susu yang memadai.

"Kemudian, secara teknis supaya merata terpenuhi maka Pak Kepala Badan mengatakan sampai saat ini, susu itu tidak wajib diberikan. Tetapi, di daerah-daerah yang memungkinkan di mana tersedia supply chain susu itu ada maka susu menjadi bagian dari MBG," ujar Epi dalam Podcast Lab, di Jakarta, Rabu (31/12).

Epi mengungkapkan, meskipun produk susu kemasan seperti susu UHT aseptik pada dasarnya telah tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia, tambahan kebutuhan akibat pelaksanaan MBG membuat kapasitas industri belum sepenuhnya siap.

Saat ini, pabrik-pabrik susu masih menyesuaikan kapasitas mesin dan fasilitas produksi dengan lonjakan permintaan baru. Sebagai langkah sementara, BGN menganjurkan agar pemberian susu dilakukan secara bertahap.

"Tetapi kita berupaya tetap dapat merata maka kita anjurkan kalau bisa dua kali seminggu. Kalau bisa sekali ya sekali dulu. Sampai nanti jumlah yang mencukupi bisa setiap hari di negara luar. Jadi MBG ini kan tambahan," sambungnya.

Lebih lanjut, Epi menyebut dalam juknis susu MBG, BGN mengacu pada Peraturan BPOM Nomor 13 Tahun 2023 tentang Kategori Pangan, khususnya kategori susu full cream rekombinasi. Selain itu, ditetapkan juga syarat minimal kandungan susu segar sebesar 20 persen.

"Karena susu segar tidak tersedia seperti yang dibutuhkan maka kami mensyaratkan minimum kandungan susu segarnya 20 persen. Supaya susu segar yang diproduksi peternak 85 persen itu diserap oleh program ini sehingga ada pasar bagi peternak dan ada stimulus buat mereka menambah populasi dan menambah produksi," jelasnya.

Biro Hukualm dan Humas
Badan Gizi Nasion