Berita

/

Berita

/

Dulu Sulit Makan, Kini Anak Berkebutuhan Khusus Lebih Lahap Berkat MBG

Dulu Sulit Makan, Kini Anak Berkebutuhan Khusus Lebih Lahap Berkat MBG

Nomor: SIPERS-205/BGN/04/2026

Berita 16 April 2026

picture-Dulu Sulit Makan, Kini Anak Berkebutuhan Khusus Lebih Lahap Berkat MBG

Bengkulu - Di sebuah rumah sederhana, Muliana (40) masih mengingat jelas masa-masa sulit saat harus menghadapi anak keduanya, Siti Aisyah (4), yang terlahir dengan kondisi anak berkebutuhan khusus. Bagi keluarga ini, urusan makan bukan perkara mudah, melainkan perjuangan harian yang menguras kesabaran.

Aisyah bukan tipe anak yang mudah menerima makanan. Setiap suapan kerap harus dibantu, bahkan tidak jarang harus dipaksa agar bisa menelan. Tekstur makanan pun harus diolah khusus, benar-benar lembut agar bisa diterima tubuhnya.

“Dulu makan itu susah sekali. Harus disuapi sambil dipegang, seperti harus dipaksa dulu baru mau masuk,” kenang Muliana.

Namun, perlahan situasi itu mulai berubah sejak keluarga ini menerima manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kehadiran makanan dengan menu yang lebih terstruktur dan beragam membuat Aisyah mulai menunjukkan respons yang berbeda.

“Sekarang alhamdulillah, kalau makanannya sudah ditim, dia mau. Memang kadang masih lama, tapi sudah jauh lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.

Siti Aisyah anak berkebutuhan khusus yang lahap makan semenjak ada MBG

Perubahan kecil itu, bagi Muliana, adalah kemajuan besar. Bahkan dalam urusan minum susu, Aisyah yang dulu menolak keras kini mulai menunjukkan perkembangan signifikan. Jika sebelumnya susu hanya bisa dikonsumsi dengan cara dicampur makanan, kini satu kotak susu bisa dihabiskan dalam sekali minum.

“Dulu susu itu susah sekali. Sekarang satu kotak bisa habis sekali minum. Itu perubahan yang sangat terasa,” katanya.

Di rumah yang sama, anak pertama Muliana yang berusia 8 tahun juga merasakan dampak serupa. Kehadiran MBG membuat pola makan lebih teratur dan kebutuhan jajan harian berkurang.

“Biasanya jajan sampai empat ribu, sekarang cukup dua ribu saja karena sudah dapat makan dari MBG,” ujar Muliana.

Bagi keluarga ini, MBG bukan hanya soal makanan, tetapi juga soal penghematan dan ketenangan. Pengeluaran untuk kebutuhan susu dan makan harian kini bisa sedikit ditekan.

“Kalau tidak ada MBG, pasti terasa sekali. Apalagi untuk susu, sangat terbantu,” tambahnya.

Di tingkat layanan kesehatan masyarakat, dampak program ini juga mulai terlihat. Yuyun, Ketua Posyandu Anggita Padang Serai, menyebut MBG membawa perubahan nyata pada pola makan anak-anak di wilayahnya.

“Di Posyandu Anggita Padang Serai, MBG bukan hanya program bantuan makanan, tetapi juga membantu membentuk kebiasaan makan sehat bagi anak-anak, dengan total 113 penerima manfaat sejak Oktober 2025,” ujar Yuyun, Ketua Posyandu Anggita Padang Serai.

Meski sederhana, perubahan yang terjadi di rumah Muliana menjadi gambaran kecil dari dampak yang lebih besar. Bagi keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, hal-hal yang tampak sepele seperti “mau makan sendiri” atau “habis satu kotak susu” adalah capaian yang sangat berarti.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional