MBG Berubah Arah Jadi Gerakan Budaya Rasa Anak
Nomor: SIPERS-23H/BGN/01/2026
Berita • 14 Januari 2026
Sumber:
doc. Biro Hukum dan HumasJakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini bergerak melampaui pendekatan logistik semata. MBG diposisikan sebagai gerakan strategis pembentukan budaya rasa anak untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia secara berkelanjutan.
Arah kebijakan ini sejalan dengan gagasan yang tertuang dalam buku Bumbu, Rasa, dan Masa Depan Generasi: MBG sebagai Gerakan Reinvensi Kuliner Anak, yang menempatkan rasa dan pengalaman makan sebagai fondasi keberhasilan intervensi gizi jangka panjang di lingkungan sekolah.
Perubahan arah tersebut menandai transformasi kebijakan gizi nasional dari sekadar pemenuhan standar nutrisi menuju pendekatan yang lebih komprehensif, dengan mengintegrasikan aspek rasa, kebiasaan makan, serta penerimaan anak terhadap makanan sehat sejak usia dini.
Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat BGN, Khairul Hidayati, sekaligus penanggung jawab buku tersebut, menegaskan bahwa keberhasilan program gizi tidak hanya ditentukan oleh kecukupan zat gizi, tetapi juga oleh penerimaan anak terhadap makanan yang dikonsumsi setiap hari. “Makanan yang bergizi harus diterima dan dinikmati anak. Karena itu, rasa menjadi elemen strategis dalam keberlanjutan program MBG,” ujar Hida di Jakarta, Rabu (14/1).
Menurut Hida, pendekatan berbasis rasa bukan sekadar inovasi teknis, melainkan bagian dari strategi jangka panjang negara dalam membangun kualitas sumber daya manusia. “MBG tidak lagi hanya berbicara tentang kecukupan gizi, tetapi juga bagaimana negara hadir membentuk kebiasaan makan sehat yang berakar pada budaya dan preferensi anak,” tegasnya.
Melalui pendekatan ini, MBG diharapkan mampu menjawab tantangan rendahnya penerimaan anak terhadap makanan sehat di sekolah, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pangan ultra-proses yang semakin mendominasi lingkungan konsumsi anak.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional