Menu MBG Disesuaikan dengan Potensi Pangan Daerah
Nomor: -
Berita • 10 September 2025
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan Humas BGNNomor: SIPERS-209A/BGN/09/2025
Jakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan bahwa menu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2025 tidak diseragamkan, melainkan disesuaikan dengan potensi pangan lokal di setiap daerah. Mulai dari ikan tongkol di Maluku, sagu di Papua, jagung di Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga sayuran dataran tinggi di Jawa Barat — semuanya akan menjadi bahan utama menu gizi seimbang bagi anak-anak Indonesia.
Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memberdayakan petani, nelayan, dan pelaku UMKM daerah sebagai bagian dari rantai pasok program.
“Gizi anak Indonesia harus hadir dari tanahnya sendiri. Bahan lokal yang bergizi, segar, dan mudah diperoleh akan menjadi dasar menu di setiap dapur program MBG,” ujar Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional (BGN), Khairul Hidayati, di Jakarta, Kamis (10/9).
Menu Bergizi, Cita Rasa Daerah
Dalam Keputusan Kepala BGN Nomor 63 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Bantuan Pemerintah Program Makan Bergizi Gratis Tahun Anggaran 2025, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diwajibkan menggunakan bahan pangan lokal terfortifikasi sesuai karakter wilayahnya.
Di daerah pesisir, menu akan banyak menggunakan ikan laut segar seperti tongkol, kembung, dan teri, yang kaya protein dan omega-3.
Di kawasan pertanian seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur, sumber karbohidrat utama berasal dari beras dan sayuran hijau, sedangkan di wilayah NTT dan Sulawesi, jagung, ubi, dan sagu menjadi bagian utama menu harian.
“Kami ingin anak-anak di seluruh Indonesia tumbuh sehat tanpa kehilangan rasa daerahnya. Makan bergizi tidak harus mahal, yang penting seimbang, aman, dan sesuai dengan kearifan pangan lokal,” tambah Hida.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional