Menuju Zero Accident: Peran Strategis Nutrisionis dalam Program MBG
Nomor: SIPERS-323A/BGN/11/2025
Berita • 4 November 2025
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan Humas BGNJakarta – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadirkan berbagai tantangan di lapangan. Mulai dari pengelolaan holding time untuk penyajian makanan massal mencapai 4.000 porsi, kebutuhan Sertifikasi HACCP bagi penyedia katering, hingga inovasi resep healthylicious agar makanan bergizi tetap digemari anak-anak.
Dalam kegiatan BGN Talks pada Sabtu, 1 November 2025, Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Gizi Indonesia (AIPGI), Prof. Budi Setiawan, menegaskan pentingnya peran nutrisionis dalam mencapai visi Zero Accident pada pelaksanaan program MBG.
“Nutrisionis merupakan garda terdepan dalam memastikan keamanan dan kualitas gizi makanan mulai dari perencanaan menu healthylicious, pemilihan bahan baku, pengawasan proses pengolahan, hingga distribusi yang aman,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional (BGN), Khairul Hidayati, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan perguruan tinggi dalam menghadapi tantangan pelaksanaan MBG.
“Melalui diskusi ini, kami menyadari bahwa isu seperti holding time makanan massal dan kebutuhan sertifikasi HACCP bagi penyedia katering harus disikapi secara strategis. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan keilmuan gizi yang dikembangkan oleh 157 program studi gizi di bawah AIPGI menjadi kunci utama. Terobosan bisa dilakukan melalui implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, pengawasan, penelitian, dan edukasi,” jelas Hida, Selasa (4/11).
Lebih lanjut, Hida menegaskan bahwa peran nutrisionis di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi faktor penentu keberhasilan MBG. Mereka tidak hanya menyusun menu, tetapi juga memastikan seluruh proses mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, penyajian, hingga evaluasi berjalan sesuai standar keamanan pangan dan kebutuhan gizi anak.
“Keberhasilan program sangat bergantung pada ketelitian nutrisionis dalam menjaga kualitas gizi dan keamanan makanan. Mereka berperan penting dalam mencegah risiko seperti kontaminasi makanan, ketidakseimbangan gizi, hingga kesalahan distribusi,” tutup Hida.
Kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, tenaga ahli, sekolah, dan masyarakat menjadi fondasi utama bagi keberlangsungan program MBG. Upaya ini tidak hanya untuk mewujudkan Zero Accident pangan, tetapi juga untuk membangun fondasi kokoh menuju terwujudnya Generasi Emas 2045 yang sehat, cerdas, dan produktif.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional