Berita

/

Berita

/

Pangan Lokal Dinilai Adaptif Hadapi Krisis Iklim

Pangan Lokal Dinilai Adaptif Hadapi Krisis Iklim

Nomor: SIPERS-247B/BGN/10/2025

Berita 2 Oktober 2025

picture-Pangan Lokal Dinilai Adaptif Hadapi Krisis Iklim

Jakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) menilai pangan lokal memiliki tingkat adaptivitas yang lebih tinggi dalam menghadapi krisis iklim yang semakin nyata. Pendekatan ini menjadi bagian penting dalam buku “Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal: Jalan Lain untuk Program Makan Bergizi Gratis”, yang menjadi rujukan konseptual penguatan kebijakan ketahanan pangan nasional, termasuk pelaksanaan Program MBG.

Buku tersebut menyoroti bahwa perubahan iklim berdampak langsung pada produksi pangan, mulai dari perubahan pola hujan, peningkatan suhu ekstrem, hingga meningkatnya risiko gagal panen. Dalam kondisi ini, sistem pangan lokal yang telah lama beradaptasi dengan lingkungan setempat dinilai lebih tangguh dibandingkan sistem pangan yang seragam dan bergantung pada rantai pasok panjang.

BGN memandang kearifan lokal dalam pengelolaan pangan, seperti kalender tanam tradisional dan pemanfaatan keanekaragaman hayati lokal, sebagai modal penting dalam membangun ketahanan pangan berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai mampu mengurangi kerentanan terhadap dampak perubahan iklim.

Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat BGN, Khairul Hidayati, selaku penanggung jawab buku, menegaskan bahwa ketahanan pangan dan krisis iklim tidak bisa dipisahkan. “Pangan lokal terbukti lebih adaptif karena tumbuh dan dikelola sesuai dengan kondisi alam setempat. Ini menjadi kunci dalam menghadapi dampak perubahan iklim,” ujar Hida di Jakarta, Kamis (2/10).

Menurut Hida, pemanfaatan pangan lokal juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon melalui pemangkasan rantai distribusi dan berkurangnya ketergantungan pada pangan impor. Dengan demikian, kebijakan pangan berbasis lokal tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga mendukung agenda keberlanjutan lingkungan.

Dalam konteks Program MBG, pendekatan adaptif ini memungkinkan MBG tetap berjalan secara konsisten meski menghadapi tekanan iklim dan gangguan pasokan pangan. Menu berbasis pangan lokal dinilai lebih fleksibel dan mudah disesuaikan dengan kondisi produksi di daerah.

Hida menambahkan bahwa perubahan paradigma kebijakan pangan menjadi kebutuhan mendesak di tengah krisis iklim global. “Kita tidak bisa lagi mengandalkan sistem pangan yang rapuh terhadap guncangan iklim. Kearifan lokal memberi kita jalan untuk membangun sistem pangan yang lebih tahan dan berkelanjutan,” tegasnya.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional