Berita

/

Berita

/

Pekan Gizi 2026: BGN Tegaskan Pentingnya Gizi Berkelanjutan Sepanjang Siklus Kehidupan

Pekan Gizi 2026: BGN Tegaskan Pentingnya Gizi Berkelanjutan Sepanjang Siklus Kehidupan

Nomor: SIPERS-44C/BGN/01/2026

Berita 21 Januari 2026

picture-Pekan Gizi 2026: BGN Tegaskan Pentingnya Gizi Berkelanjutan Sepanjang Siklus Kehidupan

Jakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa pendekatan gizi harus dibangun secara berkelanjutan sepanjang siklus kehidupan untuk menjaga kualitas sumber daya manusia dan mengamankan bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.

Penegasan tersebut disampaikan dalam talk show Pekan Gizi 2026.

Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Ir. Dodi Iswar, PhD, selaku narasumber, menyampaikan bahwa Indonesia saat ini berada pada fase demografi yang menuntut kebijakan gizi yang visioner. Komposisi penduduk balita dan lansia yang relatif seimbang menjadi sinyal penting bahwa gizi harus dikelola lintas usia agar tidak menimbulkan beban kesehatan di masa depan.

“Kita melihat saat ini jumlah balita dan lansia hampir sama besar. Kalau kondisi ini tidak di-maintain dengan baik, maka yang terjadi adalah peningkatan beban penyakit dan penurunan produktivitas penduduk,” ujar Ir. Dodi, di Jakarta, (21/01).

Ia menjelaskan bahwa gizi berperan besar dalam menjaga kecerdasan, produktivitas, dan kualitas hidup, bukan hanya pada masa kanak-kanak, tetapi juga pada fase remaja dan usia produktif. Menurutnya, kegagalan menjaga asupan gizi secara konsisten akan berdampak jangka panjang, termasuk meningkatnya penyakit tidak menular di usia lanjut.

“Yang kita jaga sebenarnya adalah produktivitas. Kalau sejak anak, remaja, sampai dewasa gizinya tidak diperhatikan, maka dampaknya baru terasa ketika mereka memasuki usia kerja dan lansia,” jelasnya.

Ir. Dodi juga menyoroti pentingnya konsep physical growth yang dipengaruhi oleh lingkungan dan pola konsumsi. Ia mencontohkan bahwa perbaikan kualitas pangan dan lingkungan mampu mendorong pertumbuhan dan kesehatan yang lebih optimal.

“Pertumbuhan fisik itu sangat dipengaruhi oleh makanan dan lingkungan. Kalau kualitas gizinya baik dan berkelanjutan, maka kualitas hidupnya juga akan jauh lebih baik,” katanya.

Dalam konteks pembentukan kebiasaan makan sehat, keluarga dinilai sebagai aktor paling krusial. Menurut Ir. Dodi, berbagai program pemenuhan gizi yang dijalankan pemerintah harus mampu mendorong perubahan perilaku makan di tingkat rumah tangga.

“Program gizi pada akhirnya adalah soal perubahan perilaku. Ketika masyarakat sudah memahami dan membiasakan pola makan seimbang di rumah, maka hasilnya akan lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, BGN terus memperkuat Program Pemenuhan Gizi dan Makan Bergizi (MBG) dengan menekankan pemanfaatan pangan lokal yang beragam, peningkatan kualitas menu, serta edukasi gizi kepada kelompok usia anak, remaja, dan keluarga.

Melalui Pekan Gizi 2026, Badan Gizi Nasional menegaskan komitmennya untuk memperkuat pendekatan gizi sepanjang siklus kehidupan sebagai investasi strategis jangka panjang dalam meningkatkan produktivitas, menekan beban penyakit, dan mewujudkan generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional