Berita

/

Berita

/

Program MBG Dorong Perputaran Ekonomi Daerah Hingga Triliunan Rupiah

Program MBG Dorong Perputaran Ekonomi Daerah Hingga Triliunan Rupiah

Nomor: SIPERS-253A/BGN/10/2025

Berita 6 Oktober 2025

picture-Program MBG Dorong Perputaran Ekonomi Daerah Hingga Triliunan Rupiah

Semarang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) tidak hanya berdampak pada peningkatan kesehatan dan gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekonomi daerah secara signifikan.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana dalam sambutannya pada acara Rapat Konsolidasi Regional dalam Rangka Pengawalan Program MBG di Provinsi Jawa Tengah dan DIY, Senin (06/10).

Dadan menjelaskan, satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) rata-rata akan menerima dana sekitar Rp9 hingga Rp10 miliar per tahun. Apabila di Jawa Tengah ada 3.200 SPPG, maka dana yang akan beredar di Jawa Tengah dari Program MBG mencapai Rp32 triliun per tahun, jauh melampaui APBD Jawa Tengah yang hanya sekitar Rp27 triliun.

“Artinya, uang dari Badan Gizi Nasional akan jauh lebih besar turun ke Jawa Tengah dibandingkan APBD Jawa Tengah itu sendiri,” ujar Dadan

Ia memaparkan, sebanyak 85 persen dari dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku berupa produk-produk pertanian, sedangkan 10,5 persen dialokasikan untuk honorarium tenaga pelaksana di SPPG. Hal ini akan menciptakan efek ekonomi yang beredar di daerah Jawa Tengah dan DIY.

Menurutnya, satu SPPG setiap bulan membutuhkan sekitar lima ton beras atau setara dengan luas panen dua hektar sawah. Selain itu satu SPPG membutuhkan sekitar 1,5 hektar lahan pisang dalam setahun, 32 kolam bioflok lele ukuran dua meter dalam empat bulan, dan butuh 4.000 ekor ayam petelur untuk menghasilkan telur tiap hari, serta 18 hektar lahan panen jagung sebagai bahan pakan ayam petelur. “Inilah aspek ekonomi yang akan lahir dari program Makan Bergizi Gratis,” jelasnya.

Ia juga menuturkan, industri dalam negeri bergerak maju mensukseskan pelaksanaan program MBG. Di Semarang, ada produsen peralatan dapur terbesar di Indonesia mencatat peningkatan omzet tiga hingga empat kali lipat, bahkan ada pabrik otomotif mulai beralih memproduksi food tray untuk kebutuhan distribusi makanan.

“Sebelum ada program MBG, tidak ada industri yang memproduksi food tray. Sekarang sudah ada 38 pengusaha food tray di Indonesia dengan kapasitas 12,8 juta buah per bulan, sedangkan kebutuhan kita mencapai 15 juta food tray setiap bulan” tambahnya.

Namun demikian, ia juga menekankan pentingnya menjaga kualitas dan keamanan pangan bagi anak-anak penerima manfaat sehingga menghasilkan anak yang tumbuh sehat, cerdas dan ceria bukan anak yang sakit. Ia mengajak seluruh pihak untuk terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelaksanaan program MBG agar manfaatnya semakin luas bagi masyarakat.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional