Berita

/

Berita

/

Subak hingga Sagu Papua Masuk Rantai MBG

Subak hingga Sagu Papua Masuk Rantai MBG

Nomor: SIPERS-247D/BGN/10/2025

Berita 2 Oktober 2025

picture-Subak hingga Sagu Papua Masuk Rantai MBG

Jakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong integrasi kearifan lokal Nusantara ke dalam rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari sistem Subak di Bali hingga pangan berbasis sagu di Papua. Pendekatan ini menjadi bagian penting dalam buku “Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal: Jalan Lain untuk Program MBG”, yang menjadi rujukan konseptual penguatan kebijakan MBG.

Buku tersebut menekankan bahwa keragaman sistem pangan tradisional di Indonesia merupakan kekuatan strategis yang selama ini belum terintegrasi secara optimal dalam kebijakan pangan nasional. Melalui MBG, potensi tersebut diusulkan untuk dihubungkan langsung dengan kebutuhan konsumsi di sekolah.

BGN menilai bahwa integrasi pangan lokal ke rantai pasok MBG tidak hanya memperkaya variasi menu sekolah, tetapi juga menjaga keberlanjutan sistem pangan tradisional yang telah teruji secara sosial, ekologis, dan budaya. Pendekatan ini dinilai mampu menjawab tantangan ketahanan pangan secara lebih kontekstual.

Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat BGN, Khairul Hidayati, selaku penanggung jawab buku, menegaskan bahwa kearifan lokal harus mendapat ruang nyata dalam kebijakan nasional. “Sistem pangan seperti Subak dan pangan sagu di Papua bukan hanya warisan budaya, tetapi solusi nyata untuk membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan,” ujar Hida di Jakarta, Kamis (2/10).

Menurut Hida, pemanfaatan sistem pangan tradisional juga membuka peluang ekonomi bagi komunitas lokal. Dengan masuknya pangan khas daerah ke dalam rantai pasok MBG, petani dan produsen lokal memiliki akses pasar yang lebih pasti dan berkelanjutan.

Selain itu, integrasi pangan Nusantara ke menu sekolah dinilai memiliki nilai edukatif yang tinggi. Anak-anak tidak hanya menerima asupan gizi, tetapi juga dikenalkan pada keragaman pangan dan budaya daerah sejak dini.

Hida menambahkan bahwa penguatan pangan lokal melalui MBG merupakan bagian dari perubahan paradigma kebijakan pangan. “Ketika pangan lokal diangkat ke level nasional melalui menu sekolah, kita sedang membangun kebanggaan sekaligus kedaulatan pangan,” tegasnya.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional