Berita

/

Berita

/

Susu Sapi Sumber Gizi Lengkap bagi Anak, Tapi Tak Semua Bisa Mengonsumsi

Susu Sapi Sumber Gizi Lengkap bagi Anak, Tapi Tak Semua Bisa Mengonsumsi

Nomor: SIPERS-255/BGN/10/2025

Berita 7 Oktober 2025

picture-Susu Sapi Sumber Gizi Lengkap bagi Anak, Tapi Tak Semua Bisa Mengonsumsi

Jakarta – Susu sapi adalah minuman bergizi tinggi, yang sangat bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Kandungan gizi lengkap dalam susu, membuatnya menjadi bagian penting dari pola makan sehat.

“Susu sapi adalah salah satu sumber gizi terbaik untuk anak-anak dan remaja, karena mengandung protein, karbohidrat, lemak, serta mineral penting seperti kalsium,” kata Ketua Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN) Karimah Muhammad, dalam edukasi gizi untuk penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar guru, murid, dan orang tua, di Jakarta, Selasa, 07/10/2025.

Menurut Karimah, protein dalam susu berperan membangun otot sekaligus menyuplai energi. “Ada dua jenis protein dalam susu sapi, yaitu casein (80%) dan whey (20%). Keduanya penting untuk pertumbuhan jaringan tubuh,” ujarnya.

Selain itu, karbohidrat dalam bentuk laktosa menyumbang sekitar 37% kandungan susu dan berfungsi sebagai sumber energi. Lemak juga berperan besar dalam menyuplai energi tambahan, dengan kandungan sekitar 30%. Sementara kalsium membantu pembentukan tulang dan gigi yang kuat serta sehat, terutama pada masa pertumbuhan.

Tak Semua Anak Bisa Mengonsumsi Susu

Meski sangat bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, ada sebagian kecil anak yang justru mengalami gangguan setelah minum susu sapi. Hal ini disebabkan oleh dua kondisi:

Pertama, Intoleransi Laktosa. Kondisi ini terjadi karena di dalam tubuh anak kekurangan enzim laktase yang dibutuhkan untuk mencerna laktosa dalam susu. Akibatnya, anak bisa mengalami mual, muntah, nyeri perut, atau diare.
“Di luar negeri, solusi sederhana dilakukan dengan pemberian tablet enzim laktase sebelum minum susu,” kata Karimah.

Kedua adalah Alergi Protein Susu. Masalah ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh anak menganggap protein casein sebagai zat berbahaya. Reaksi yang muncul antara lain gatal-gatal di kulit, batuk membandel, hingga sesak napas. “Kasus seperti ini dapat ditangani dengan obat antialergi di Puskesmas, namun jika parah sebaiknya semua produk susu dihindari,” kata Ahli Farmasi Klinis itu.

Alternatif Asupan Gizi

Anak-anak yang tidak dapat mengonsumsi susu karena dua hal di atas, tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi dari berbagai sumber lain, seperti protein yang berasal dari kacang-kacangan, susu kedelai, putih telur, atau ikan, serta kalsium yang bisa dipenuhi melalui suplemen tablet sesuai anjuran tenaga kesehatan.

“Hal terpenting adalah memahami kondisi tubuh anak. Jika ada gejala setelah minum susu, segera konsultasi dengan tenaga kesehatan. Dengan penanganan tepat, kebutuhan gizi anak tetap bisa terpenuhi,” kata Karimah.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Badan Gizi Nasional (BGN) tidak hanya fokus pada distribusi susu untuk anak-anak sekolah, tetapi juga memberikan edukasi gizi menyeluruh kepada guru, murid, dan orang tua. Tujuannya untuk memastikan bahwa setiap anak Indonesia tumbuh sehat, kuat, dan cerdas sesuai kebutuhan tubuhnya.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional