Berita

/

Berita

/

Tak Hanya Soal Pemenuhan Gizi, MBG Berperan Stabilkan Harga Pangan

Tak Hanya Soal Pemenuhan Gizi, MBG Berperan Stabilkan Harga Pangan

Nomor: SIPERS-418C/BGN/12/2025

Berita 15 Desember 2025

picture-Tak Hanya Soal Pemenuhan Gizi, MBG Berperan Stabilkan Harga Pangan

Jakarta - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan, selain memperluas jangkauan penerima manfaat, program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini juga berperan dalam menstabilkan harga pangan melalui pengaturan menu di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).


Hal tersebut ia ungkapkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto saat mengikuti Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12).


"Sekarang Badan Gizi Nasional bisa menstabilkan harga. Jadi, kalau permintaan akan telur sama ayam terlalu tinggi kami bisa berikan instruksi kepada SPPG agar menggunakan protein lain. Contohnya bulan ini adalah bulan ikan maka kita anjurkan agar lebih banyak menggunakan ikan," ujar Dadan.


Sebaliknya, ketika harga komoditas tertentu turun dan merugikan petani, BGN mengarahkan SPPG untuk menyerap hasil produksi tersebut. "Kemudian ketika harga kentang turun petani menjerit, kami perintahkan kepada SPPG agar satu hari dalam satu minggu memasak kentang. Alhamdulillah harga kentang mulai naik," sambung Dadan.


Menurut Dadan, kuota belanja SPPG sangat besar ini berdampak langsung pada pergerakan ekonomi lokal. Dalam satu kali proses memasak, satu SPPG membutuhkan sekitar 200 kilogram (kg) beras, 350 kg sayuran, hingga 3.000 buah pisang atau setara 15 tandan.


"Kalau masak lele, harus ada 3.000 lele, itu 2 kolam bioflok harus tersedia. Jadi itu betapa masifnya Program Makan Bergizi. Saya kira sekarang sudah dirasakan oleh masyarakat. Banyak petani-petani, pemuda-pemuda yang sekarang sudah mulai aktif beraktivitas di daerah masing-masing meningkatkan produktivitas wilayah," kata dia.


Dadan juga menyebut potensi lain dari Program MBG di tingkat global. Sebelumnya, ia sempat berdiskusi dengan seorang ahli dari Amerika Serikat terkait carbon trading.


Menurut kajian awal, pola MBG yang berbasis locality, menggunakan bahan pangan lokal, serta melibatkan ahli gizi di setiap SPPG. Hal ini yang dinilai menghasilkan jejak karbon yang rendah.


"Tadi malam saya didatangi oleh satu ahli dari Amerika terkait dengan carbon trading. Saya juga enggak nyangka ternyata pola yang dikembangkan oleh Badan Gizi terkait dengan locality dengan ada SPPG. Ada ahli gizi di setiap SPPG, produknya lokal kesukaan masyarakat. Rupanya, secara ekosistem itu dinilai termasuk yang menghasilkan carbon footprint rendah sehingga kemungkinan bisa di-monetize oleh dunia internasional," jelasnya.



Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional