Tidak Seperti di Amerika, Ini Alasan BGN Pilih Susu MBG Tanpa Rasa
Nomor: SIPERS-455/BGN/12/2025
Berita • 31 Desember 2025
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan Humas BGNJakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa susu yang diberikan kepada anak-anak melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya berupa susu tawar tanpa tambahan rasa, gula, maupun pengawet.
Kebijakan ini diambil untuk menjaga kualitas gizi sekaligus menghindari asupan gula berlebih pada anak. Hal ini dikemukakan oleh Pakar susu BGN, Epi Taufik, dalam Podcast Lab bertemakan Susu dalam Program MBG: Fondasi Penting Pemenuhan Gizi Anak.
"Saya pernah melihat di Amerika, seminggu sekali di sana itu diberi (susu) rasa cokelat atau stroberi. Saya sampaikan ke Pak Kepala Badan, bagaimana kalau seminggu sekali atau sebulan dua kali anak-anak diberi (susu rasa) cokelat? intinya yang flavor," katanya, Jakarta, Rabu (31/12).
"Pak Kepala Badan tidak (setuju). Kita kasih susu saja sudah banyak yang protes katanya, apalagi kasih gula. Jadi atas ini, kita strict hanya ngasih yang plain, no sugar, no preservative. Harus yang plain," sambung Epi.
Selain soal rasa, Epi juga menjelaskan proses pengolahan susu yang dikonsumsi anak-anak dalam Program MBG saat ini diproses melalui teknologi pemanasan untuk menjamin keamanan pangan dan memperpanjang masa simpan.
"Jadi begini, susu segar tadi yang baru keluar atau susu mentah itu kemudian kan cepat rusak. Oleh karena itu, segera didinginkan kan biasanya. Setelah didinginkan supaya umur simpannya tambah panjang tapi nutrisinya tetap terjaga, biasanya dipanaskan," ujarnya.
Epi menyebut, terdapat dua metode utama pengolahan susu, yakni pasteurisasi dan ultra high temperature (UHT). Pasteurisasi dilakukan dengan pemanasan di bawah 100 derajat celsius, sedangkan UHT sebaliknya hingga mencapai kondisi steril.
"Ini semua patogen yang bakteri bisa bikin sakit mati, tapi bakteri pembusuk tidak. Oleh karena itu, pasteurisasi ini harus disimpan dingin sampai diminum pun harus dingin di bawah 4 derajat. Itu yang kita sebut strict coal chain," paparnya.
Lantaran membutuhkan rantai pendingin ketat dan memiliki masa simpan pendek, susu pasteurisasi umumnya hanya dapat bertahan antara tiga hingga tujuh hari. Oleh sebab itu, jenis susu ini lebih cocok digunakan di wilayah yang dekat dengan sentra produksi susu.
"Makanya saya mendorong di daerah-daerah yang pusat susu di Lembang, Pangalengan, Malang, Batu, SPPG-SPPG di situ pakai susu pasteurisasi karena 100 persen susu segar," kata Epi.
Sementara itu, susu UHT memiliki keunggulan dari sisi distribusi dan ketahanan. Meski tidak selalu menggunakan 100 persen susu segar, susu UHT dapat disimpan pada suhu ruang tanpa pendingin selama enam bulan hingga satu tahun, selama kemasan belum dibuka.
Dengan pengaturan tersebut, BGN memastikan bahwa susu dalam Program MBG tetap aman, bergizi, dan sesuai dengan kondisi geografis Indonesia, sekaligus menjaga prinsip kehati-hatian dalam pemenuhan gizi anak-anak.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional