Berita

/

Siaran Pers

/

Siaran Pers Kepala Badan Gizi Nasional

/

BGN Prioritaskan Aglomerasi Tekan Stunting

BGN Prioritaskan Aglomerasi Tekan Stunting

Nomor: SIPERS-414D/BGN/12/2025

Siaran Pers 13 Desember 2025

picture-BGN Prioritaskan Aglomerasi Tekan Stunting

Jakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan bahwa fokus awal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diarahkan ke wilayah aglomerasi berpenduduk padat sebagai strategi untuk menciptakan dampak masif dan cepat terhadap penurunan stunting serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Kepala BGN Dadan Hindayana menyebutkan bahwa masalah gizi dan stunting terbesar justru terkonsentrasi di provinsi dengan jumlah penduduk terbesar, bukan semata di wilayah terpencil.


“Itu tidak hanya di daerah terkecil justru anak terbesar yang mengalami stunting dan produktivitas tinggi menghasilkan keturunan itu ada di 3 provinsi besar yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur sehingga tidak heran ada 2 juta stunting, anak-anak stunting dari 3 provinsi ini,” ungkap Dadan di Jakarta, Sabtu (13/12).


Dadan menegaskan bahwa sebagian besar populasi anak yang membutuhkan intervensi gizi berada di wilayah aglomerasi.


“Yang 79 juta lebih itu ada di daerah agromerasi dan sebagian besar 60% ada di Pulau Jawa,” jelasnya.


Karena itu, BGN secara sengaja memulai intervensi dari wilayah tersebut agar manfaat program terlihat luas dan nyata.


“Jadi kita memang sengaja kita kerjakan di daerah agromerasi agar juga langkah kita terlihat masif dan juga dampaknya terlihat di masyarakat,” kata Dadan.


Meski demikian, BGN tetap memastikan pemerataan akses hingga wilayah terpencil dan 3T melalui pembangunan satuan pelayanan gizi.


“Nah kemudian kita juga mengintervensi tentu saja di daerah terpencil dengan jumlah yang SPPG yang kita bangun nanti daerah terpencil kurang lebih sekitar 8.200 dan itu populasinya kurang lebih tidak lebih dari 3 juta,” ujarnya.


Dadan optimistis intervensi gizi yang sudah berjalan menunjukkan hasil positif.


“Saya yakin bagi daerah-daerah yang sekarang sudah mengalami intervensi pemenuhan gizi ada perkembangan yang lebih baik,” tegas Dadan.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional