Berita
/
Siaran Pers
/
Siaran Pers Kepala Badan Gizi Nasional
/
BGN Tegaskan Gizi Anak Disesuaikan Tahap Usia
BGN Tegaskan Gizi Anak Disesuaikan Tahap Usia
Nomor: SIPERS-414F/BGN/12/2025
Siaran Pers • 13 Desember 2025
Sumber:
Doc, Biro Hukum dan Humas BGNJakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa konsep makan bergizi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak disamaratakan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan gizi spesifik anak Indonesia di setiap rentang usia dan tahap perkembangan.
Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan, pemenuhan gizi dalam program MBG mengacu pada regulasi pemerintah, khususnya standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.
“Ya, tentu saja kita melakukan pemenuhan gizi dan disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan masing-masing penerima manfaat dan itu disesuaikan dengan peraturan yang sudah dibuat oleh pemerintah terutama Kementerian Kesehatan dimana angka kecukupan gizi masing-masing tahap penerima manfaat harus terpenuhi,” ujar Dadan di Jakarta, Sabtu (13/12).
Dadan menekankan bahwa bukan hanya jumlah asupan yang diperhatikan, tetapi juga komposisi gizi seimbang agar menu yang diberikan benar-benar berdampak pada tumbuh kembang penerima manfaat.
“Yang kedua tentu saja komposisi gizinya juga harus sesuai sehingga bisa dihasilkan menu dengan gizi seimbang dan itu penting sekali terutama dengan penerima manfaat mulai dari ibu hamil, ibu nyesuai, anak balita serta seluruh anak sekolah dari PAUD sampai tingkat SMA dan setelah sekolah keagamaan lain,” lanjutnya.
Menurut Dadan, intervensi gizi yang tepat sejak dini menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, khususnya pada periode seribu hari pertama kehidupan.
“Ini penting untuk mengintervensi seribu hari pertama terutama untuk menghasilkan tingkat kecerdasan anak-anak,” tegasnya.
Selain fokus pada fase awal kehidupan, BGN juga memastikan pemenuhan gizi berlanjut pada usia pertumbuhan fisik anak dan remaja.
“Kemudian ketika anak tumbuh secara fisik dari usia 8 sampai 18 tahun kita harus penuhi juga angka kecukupan gizi dan komposisi gizi seimbangnya agar mereka bisa tumbuh dengan fisik yang kuat, tumbuh dengan tumbuh tinggi yang optimal,” jelas Dadan.
Dadan menambahkan, pendekatan berkelanjutan ini bertujuan mencetak generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga kuat dan sehat secara fisik.
“Sehingga kita bisa menghasilkan generasi pendatang yang cerdas karena seribu hari pertamanya kita intervensi dan pertumbuhan fisiknya juga optimal karena pada saat usia pertumbuhan kita intervensi dengan gizi seimbang,” tutup Dadan.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional