Berita
/
Siaran Pers
/
Siaran Pers Kepala Badan Gizi Nasional
/
Dari 190 ke 19.000 Lebih SPPG, Program MBG Tumbuh Pesat Selama 2025
Dari 190 ke 19.000 Lebih SPPG, Program MBG Tumbuh Pesat Selama 2025
Nomor: SIPERS-457/BGN/12/2025
Siaran Pers • 31 Desember 2025
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan Humas BGNBlitar - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana menyampaikan capaian signifikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sepanjang tahun 2025.
Sejak diluncurkan 6 Januari 2025, awalnya hanya berdiri ratusan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kini berkembang pesat mencapai belasan ribu unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal itu disampaikan Dadan saat meresmikan SPPG Yayasan Pondok Pesantren Baiturrahman di Blitar, Jawa Timur, Rabu (31/12).
"Alhamdulillah, program makan bergizi ini sejak kita launching tanggal 6 Januari 2025, jumlahnya 190 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di 26 provinsi, melayani 570 ribu penerima manfaat. Hari ini, termasuk yang di sini, sudah terdata 19.069 SPPG di 38 provinsi, di 509 kabupaten, di 7.022 kecamatan, dan sudah bisa melayani 55 juta penerima manfaat," ucap Dadan.
Ia menuturkan, 31 Desember 2025 menjadi hari terakhir pelayanan MBG. Program akan kembali berjalan pada 8 Januari 2026 dengan cakupan layanan yang lebih luas.
"Hari ini (31 Desember 2025) adalah hari terakhir, dan kita mengakhiri tahun 2025 dengan pelayanan hari ini. Kemudian kita akan mulai lagi tanggal 8 Januari 2026. Kita akan mulai dengan 19.100 lebih SPPG termasuk di pesantren ini. Jadi ini pesantren yang akan mulai operasional juga tanggal 8 Januari," sebut Dadan.
SPPG Wajib Sajikan Menu MBG Khas Daerah
Dadan menambahkan, pelaksanaan MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga menghargai keberagaman budaya dan kuliner lokal. Karena itu, setiap SPPG akan diminta menyajikan menu khas daerah masing-masing.
"Kami akan minta nanti di setiap SPPG menyajikan menu khas daerah masing-masing. Kami sudah buat buku, ada 80 menu khas daerah yang sudah dibukukan. Kebetulan sebetulnya diinisiasi oleh pihak kepolisian, dan itu sudah memiliki menu khas daerah masing-masing," ucapnya.
Khusus di Blitar, Dadan menyebut keberadaan SPPG memiliki dampak ekonomi yang besar. Saat ini, sudah terdapat 18 SPPG yang beroperasi dan jumlahnya diperkirakan akan bertambah hingga lebih dari 30 unit.
"Saya kira kehadiran SPPG di Blitar ini penting, karena kami perkirakan mungkin akan ada lebih dari 30 SPPG. Yang sekarang sudah operasional ada 18 (SPPG). Tiga puluh SPPG itu artinya uang Badan Gizi akan turun ke Blitar kurang lebih Rp 300 miliar. Itu artinya, 70 persen digunakan untuk membeli bahan baku, mulai dari beras, telur, minyak, ayam, lele, buah, sayur, dan lain-lain," papar Dadan.
Ia berharap, kehadiran SPPG tidak hanya meningkatkan status gizi masyarakat, khususnya anak-anak, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui penyerapan produk dan tenaga kerja dari daerah setempat.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional