Berita
/
Siaran Pers
/
Siaran Pers Kepala Badan Gizi Nasional
/
Kepala BGN sebut Efek Program MBG Dongkrak Penjualan Motor
Kepala BGN sebut Efek Program MBG Dongkrak Penjualan Motor
Nomor: SIPERS-456/BGN/12/2025
Siaran Pers • 31 Desember 2025
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan Humas BGNBlitar - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas gizi anak, tetapi juga memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Salah satu dampaknya yakni meningkatnya penjualan sepeda motor di sejumlah daerah pada akhir tahun 2025. Menurut Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, kenaikan tersebut berkaitan erat dengan terbukanya lapangan pekerjaan baru melalui program ini.
"Alhamdulillah, penjualan motor naik di akhir tahun ini, karena tukang cuci (ompreng di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG) mampu mencicil motor. Ini luar biasa menurut saya, yang tadinya kita tidak perkirakan seperti itu," ungkapnya saat meresmikan SPPG Yayasan Pondok Pesantren Baiturrahman di Blitar, Jawa Timur, Rabu (31/12).
Dadan menyebut, satu unit SPPG rata-rata mempekerjakan sekitar 50 orang serta melibatkan sedikitnya 15 pemasok bahan pangan lokal. Rantai ekonomi ini mendorong perputaran uang di daerah, mulai dari sektor pangan hingga transportasi. Secara nasional, BGN mencatat sekitar 780 ribu orang telah terserap langsung dalam operasional SPPG.
"Jadi saya kira program makan bergizi ini, selain kita melakukan intervensi pemenuhan gizi agar anak-anak ini bisa tumbuh sehat, cerdas, kuat dan ceria, tapi juga bisa menggerakkan seluruh aspek ekonomi di daerah. Karena 1 SPPG seperti ini akan mempekerjakan 50 orang. Juga akan menampung minimal 15 supplier, supplier beras, minyak, bumbu, dan lain-lain," kata dia.
Selain itu, kehadiran SPPG di lingkungan pesantren tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi santri, tetapi juga meringankan beban operasional lembaga pendidikan keagamaan tersebut.
Dadan menjelaskan, BGN memberikan insentif operasional yang signifikan kepada pesantren. Saat ini, insentif yang berlaku mencapai Rp 6 juta per hari atau sekitar Rp 140 juta per bulan.
Ia mencontohkan salah satu pesantren di Bandung yang sebelumnya mengalami defisit operasional hingga Rp 60 juta setiap bulan. Setelah menjalankan SPPG, kondisi keuangan pesantren tersebut kini jauh lebih stabil.
"Yang kedua dengan adanya SPPG seperti ini di pesantren, operasional pesantren akan ringan karena BGN memberikan insentif untuk pembangunan fasilitas ini. Yang sekarang ini berlaku itu Rp 6 juta sehari, jadi sebulan itu bisa Rp 140 juta," paparnya.
"Satu pesantren di Bandung yang tadinya tekor setiap bulan Rp 60 juta sekarang nyaman sekali. Tidak lagi meminta ke mana-mana untuk operasional," sambung Dadan.
Menurut Dadan, dampak positif tersebut tidak hanya dirasakan oleh lembaga, tetapi juga oleh para tenaga pendidik. Kesejahteraan guru di pesantren yang menjalankan SPPG ikut meningkat seiring dengan stabilnya keuangan pesantren. "Bahkan guru-gurunya menjadi sangat makmur," ungkapnya.
Kata Dadan, Program MBG melalui SPPG dirancang tidak hanya sebagai intervensi gizi bagi anak dan santri, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem ekonomi dan keberlanjutan lembaga pendidikan, termasuk pesantren di berbagai daerah.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional