Berita
/
Siaran Pers
/
Siaran Pers Kepala Badan Gizi Nasional
/
Program MBG Bangkitkan Ekonomi Umat dari Pesantren
Program MBG Bangkitkan Ekonomi Umat dari Pesantren
Nomor: SIPERS-451/BGN/12/2025
Siaran Pers • 30 Desember 2025
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan Humas BGNBatang, Jawa Tengah — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfungsi sebagai intervensi pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan berbasis pesantren. Melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pesantren dan warga Nahdlatul Ulama (NU) terlibat langsung dalam ekosistem produksi dan distribusi pangan yang menyerap tenaga kerja serta menggerakkan sektor pertanian, peternakan, dan UMKM pangan lokal.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan bahwa pendekatan Program MBG dirancang untuk memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat, khususnya di lingkungan pesantren. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Launching 50 SPPG NU dan Penyerahan Paket Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk 100 santri di Pondok Pesantren Al Hasani, Batang, Jawa Tengah.
“Badan Gizi Nasional tidak hanya berperan sebagai pemberi makan, tetapi juga sebagai pencipta ekosistem ekonomi.” ujar Dadan di Batang, Selasa (30/12).

Kepala BGN menyerahkan paket MBG kepada santri di Pomdok Al Hasani
Menurut Dadan, setiap SPPG menjadi simpul ekonomi lokal yang melibatkan petani, peternak, pemasok bahan pangan, serta tenaga kerja di sekitar pesantren. Skema ini memastikan perputaran anggaran Program MBG terjadi langsung di tingkat masyarakat tanpa perantara.
Dadan menjelaskan, sebagian besar anggaran harian Program MBG digunakan untuk belanja bahan baku pangan yang diproduksi masyarakat.
“Perlu diingat, 70 persen dari Rp855 miliar tersebut digunakan untuk membeli bahan baku seperti telur, beras, minyak, bumbu, ayam, dan lainnya.” tambahnya.
Selain belanja bahan baku, Program MBG juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Operasional SPPG melibatkan ratusan ribu pekerja langsung, serta lebih dari satu juta orang secara tidak langsung melalui rantai pasok pangan, mulai dari sektor pertanian hingga usaha pengolahan pangan.

Kepala BGN pada acara launching 50 SPPG NU
Dadan juga mengajak warga NU dan para santri untuk terlibat aktif dalam produksi pangan guna memperkuat keberlanjutan Program MBG.
“Saya mengajak seluruh warga NU dan para santri untuk terlibat aktif dalam produksi pangan: beternak ayam, menanam padi, jagung, pisang, dan sayuran.” tegas Dadan.
Melalui keterlibatan tersebut, hasil produksi pangan masyarakat dipastikan terserap oleh SPPG dan dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan gizi santri dan penerima manfaat lainnya. Model ini menempatkan pesantren tidak hanya sebagai pusat pendidikan dan keagamaan, tetapi juga sebagai pusat ekonomi umat yang berkelanjutan.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional